Pengantar Robot

1.)

Rahasia Para Robot Juara

Cepat Pindahkan Muatan.

DEPTH4 terdiri atas lima robot. Satu manual, empat otomatis. Namun, dalam pertandingan yang kontes yang diadakan di Universitas Indonesia 4-5 Juni lalu, tim ini meninggalkan dua robot otomatisnya.

Yang dimaksud manual, kendalinya lewat joystick dari tangan manusia. Jadi, mirip dengan remote control mainan. Hanya, saja belum ada koneksi wireless.

Robot manual ini dapat mengangkut muatan berupa builder blocks (stereofoam setinggi 30 senti) dan memindahkannya ke skybridge tower setinggi 2,4 meter. Meski hanya berupa rangka alumunium, cara kerja robot ini mirip forklift. Ambil, angkat, bawa, dan masukkan.

Kecepatan robot ini setara dengan kecepatan jogging orang dewasa. Sebab, di dalamnya dipasang Pulse Width Modulation (PWM) yang dimodifikasi agar DEPTH4 bisa lari dengan cepat. Gerak robot ini didapat dari empat pasang batere kering bertotal listrik DC 24 volt. Saking cepatnya, driver-nya harus berlari kecil untuk mengikuti gerak DEPTH4.

Sementara, robot otomatis adalah robot yang dimensinya lebih kecil dari robot manual. Gerakannya dikendalikan oleh sensor-sensor. Robot ini sudah tidak lagi menggunakan joystick, melainkan menggunakan sensor garis dan rotary encoder.

Sensor garis dibuat dari gabungan rangkaian photo diode dengan led superbright. Fungsi sensor ini memantulkan cahaya dari line (biasanya berupa selotip putih) yang dipancarkan oleh transceiver dan diterima oleh receiver. Setelah, cahaya dari line ditangkap, tugas microcontroller-lah yang mengatur robot tersebut akan berjalan ke mana.

Sebelumnya, pemetaan koordinat line di lapangan harus dihitung terlebih dahulu. Fungsinya, untuk memberi tahu pada koordinat berapa robot otomatis ini harus berhenti dan mengeluarkan berupa builder blocks.

Sensor rotary encoder memiliki fungsi mengatur robot agar berhenti pada jarak tertentu. Jadi, tidak menggunakan line sebagai lintasannya.

Sensor ini digunakan DEPTH4 pada robot otomatis kedua. Robot tidak perlu susah-susah menemukan tower dengan sensor garis untuk menaruh builder blocks. Namun, robot akan berhenti pada jarak yang dikendaki, membuka jembatannya, dan memuntahkan tumpanganya untuk kemudian menaruh builder blocks. Total, mereka menghabiskan uang sebesar Rp 10 juta untuk DEPTH4. (yud)

“Kelelawar” Pemadam Api

aL-Ashry memang layak jadi juara dalam Kontes Robot Cerdas Indonesia (KRCI) 2006. Sebab, ia mampu dengan cerdas memadamkan api.

Pada peragaannya di KCRI, robot ini dapat menyusuri lintasan yang berisi beberapa kamar dan menemukan kamar mana yang berisi sumber api. Kemudian, aL-Ashry akan mematikan api tadi dengan kipasnya. Sumber api diwakili oleh lilin. Cara kerja robot ini memanfaatkan sensor ultrasonik dan UVtron.

Ultrasonik berfungsi menjaga jarak dengan dinding agar tidak menabrak. Robot ini mengadaptasi cara kelelawar terbang di malam hari. Ia akan mengeluarkan sinyal suara ultrasonik dengan frekuensi di atas ambang frekuensi pendengaran manusia sehingga tidak dapat terdengar. Kemudian, sinyal tersebut dipantulkan kembali ke robot. Dengan begitu, pergerakannya tidak memanfaatkan lintasan.

Seperti halnya DEPTH4, pasokan energi pada aL-Ashry juga memanfaatkan DC bertegangan 24 volt. Tegangan tadi digunakan untuk menggerakan motor dan seluruh sistem rangkaian.

Sedang UVtrone berfungsi mendeteksi keberadaan api, bukan mendeteksi thermal (panas). aL-Ashry memasang dua sensor UVtrone di tubuh robotnya. Satu UVtrone terbuka yang memastikan ada api dalam ruangan. UVtrone lain untuk memfokuskan di mana letak sumber api berada. Jika kerja UVtrone masih optimal, robot ini bahkan bisa mendeteksi keberadaan api dalam jarak lima meter.

Dengan begitu, ketika akan masuk ke dalam ruangan, UVtrone terbuka bekerja terlebih dahulu. Jika memang tidak ada api di salah satu kamar, robot ini tidak akan masuk. Namun, jika memang ada lilin menyala, robot tersebut akan masuk kemudian memfokuskan sumber api berada.

Begitu mendapatkan posisi yang tepat, robot akan berputar 180 derajat. Sebab, posisi kipas yang berfungsi mematikan api bertolak belakang dengan posisi UVtrone. Lalu, barulah kipas berputar untuk mematikan api. Bila api belum mati, robot tidak akan meninggalkan kamar tersebut.

Bila diumpamakan, UVtrone adalah indera aL-Ashry. Sedangkan otaknya adalah microcontroller yang sudah diisi data-data program lewat software CodeVision AVR dengan bahasa pemprograman C++.

CodeVision inilah yang digunakan sebagai compiler programmer. Jadi, pengguna tinggal memasukkan data-data ke mana robot ini akan membelok dan bagaimana bentuk lintasannya.

Robot yang proses pembuatannya menghabiskan dana Rp 15 juta ini juga dilengkapi sistem kompas. Jadi, ketika diletakkan di sembarang tempat, robot tersebut akan tahu letak utara atau selatan. Karena itu, ia mampu berbelok dengan halus, tanpa harus berhenti dan berputar terlebih dahulu.

2.)

Teori ‘Otak Dengkul’ Bikin Robot Jalan Cepat
Wicaksono Hidayat – detikinet

Jakarta – Ilmuwan di Jerman berhasil menemukan cara untuk membuat robot berjalan mirip manusia. Bukan hanya mirip, robot ini pun bisa berjalan cepat dibandingkan robot serupa yang sudah ada.

Robot itu bernama Runbot, sebuah robot berkaki dua berukuran kecil yang bisa bergerak sejarak tiga kali panjang kakinya dalam satu detik. Ini hanya sedikit lebih lambat dari kecepatan manusia saat berjalan dengan cepat.

Robot ini menggunakan teori ‘otak dengkul’ yang dikemukakan pertama kali oleh NIkolai Bernstein pada era 1930-an. Teori itu pada intinya mengemukakan bahwa otak manusia (yang ada di kepala) tidak melulu memproses cara berjalan.

Otak, ujar Bernstein, hanya bekerja saat berjalan dari satu permukaan ke permukaan lain, misalnya dari lantai ke rumput, atau saat permukaan tidak rata. Selebihnya, kemampuan berjalan ditangani oleh ‘otak’ alias syaraf-syaraf di tulang punggung dan kaki, termasuk di dengkul.

Dengan menerapkan teori tersebut, Profesor Florentin Woergoetter dan tim dari Universitas Gottingen, Jerman, berhasil membuat Runbot. Tim Woergoetter mencakup ilmuwan dari berbagai latar belakang, termasuk Poramate Manoonpong, Tao Geng, Tomas Kulvicius dan Bernd Porr.

Bukan Robot Kikuk

Saat berjalan menuju sebuah tanjakan, Woergoetter mengatakan, ‘otak dengkul’ Runbot akan menganggap tidak ada masalah. Namun ketika tubuh Runbot terjatuh karena gaya gravitasi menariknya ke belakang sistem ‘otak atas’ Runbot akan mendeteksinya dan melakukan perubahan.

Selanjutnya, ujar Woergoetter, perubahan itu akan diterapkan ke ‘otak dengkul’ sehingga ‘otak atas’ tak perlu terus menerus melakukan proses. “Sulitnya pada robot, adalah menerapkan gerakan pada waktu yang tepat –dalam hitungan milidetik– agar tidak jatuh,” paparnya.

Runbot memiliki cara jalan yang berbeda dengan robot populer seperti Asimo, atau sejenisnya. “Robot-robot itu adalah pejalan kinematis, mereka berjalan selangkah demi selangkah dan memperhitungkan setiap sudut setiap milidetik,” ia menjelaskan.

Melalui teknologi kecerdasan buatan dan rekayasa robotika, Woergoetter mengatakan proses rumit itu memang bisa dilakukan. “Namun sangat kikuk. Manusia tidak berjalan seperti itu. Mesin-mesin besar itu menghentak bagai robot, kami mau membuat robot yang berjalan seperti manusia,” ujarnya.

Saat ini tim tersebut sedang memikirkan bagaimana menerapkan Runbot untuk membuat robot yang berukuran lebih besar. Runbot juga akan dikembangkan agar reaksinya lebih cepat dan lebih adaptif.


3.)

Robot Mobile

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Robot Mobil atau Mobile Robot adalah konstruksi robot yang ciri khasnya adalah mempunyai aktuator berupa roda untuk menggerakkan keseluruhan badan robot tersebut, sehingga robot tersebut dapat melakukan perpindahan posisi dari satu titik ke titik yang lain.

Robot mobil ini sangat disukai bagi orang yang mulai mempelajari robot. Hal ini karena membuat robot mobil tidak memerlukan kerja fisik yang berat. Untuk dapat membuat sebuah robot mobile minimal diperlukan pengetahuan tentang mikrokontroler dan sensor-sensor elektronik.

Base robot mobil dapat dengan mudah dibuat dengan menggunakan plywood /triplek, akrilik sampai menggunakan logam ( aluminium ). Robot mobil dapat dibuat sebagai pengikut garis ( Line Follower ) atau pengikut dinding ( Wall Follower ) ataupun pengikut cahaya.

4.)

RoboT Dansa


Tokyo – Di Jepang, perkembangan robot memang cukup pesat. Mulai dari robot pembantu hingga robot pengganti dokter. Kini, robot yang mampu berdansa pun hadir.

Para ilmuwan dari University of Tokyo telah berhasil menciptakan robot yang bisa mengikuti gerakan penari manusia. Ya, robot yang bisa berdansa seperti layaknya manusia.

Pembuatan robot HRP-2 bipedal yang bisa berdansa tersebut digagas oleh Shin’ichiro Nakaoka dan dibantu oleh rekan-rekan dari universitas Tokyo. Teknologi yang digunakan adalah teknologi penangkap gerakan, sehingga gerakan dansa seseorang bisa terekam dan segera diikuti oleh sang robot.

Walau kemampuan robot itu bisa dikatakan tidak meragukan, namun ada beberapa hal yang menjadi problem. Yaitu mem-program sang robot agar tetap dapat mengikuti gerakan yang sulit namun dengan keseimbangan yang tetap baik.

Seperti dilansir Vnunet dan dikutip detikINET, Sabtu (11/8/2007), tak lama lagi, dunia akan menyaksikan robot tersebut menari tarian balet ‘Swan Lake’. Namun, menurut para ilmuwan, robot ini tidak bisa mengikuti melakukan balet yang seringkali loncat dan membiarkan kedua kakinya di udara beberapa kali.

Hingga saat ini, robot tersebut telah didemonstrasikan dan menari tarian tradisional Jepang, ‘Aizu-Bandaisan’ yang banyak mengunakan gerakan badan daripada kaki.

5.)

Robot Pintar Main Biola

Liputan6.com, Tokyo: Jepang terkenal sebagai negara yang paling maju dalam pengembangan robot. Sebanyak 370 ribu robot pada 2005 telah digunakan Jepang untuk kepentingan industri. Belum lama ini, berbagai produk robot terbaru digelar di sebuah pameran di Tokyo, Jepang.

Salah satu robot yang ditampilkan dalam pameran itu di antaranya robot pintar yang bisa bermain biola. Robot yang bisa bermain violin ini menjadi pusat perhatian pengunjung pameran karena bisa menekan senar dan mengayunkan bow dengan koordinasi yang sempurna.

Pameran ini juga menampilkan pertarungan antara robot yang dikendalikan penciptanya melalui remote control. Pertarungan antarrobot ini mengingatkan adegan film Hollywood Transformers. Dua robot yang dinamakan King Kizer dan Aerobattler Mon akhirnya berjumpa di final. Robot King Kizer yang hanya berukuran 40 sentimeter akhirnya keluar sebagai pemenang setelah menjatuhkan Aerobattler Mon.(IAN)

Robot

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s