BIOMETRIK

Posted On Oktober 3, 2007

Filed under Grafika Komputer

Comments Dropped leave a response

New Task Grafika Komputer

Pot teh Utah

Pot teh Utah
Grafika komputer (Inggris: Computer graphics) adalah bagian dari ilmu komputer yang berkaitan dengan pembuatan dan manipulasi gambar (visual) secara digital. Bentuk sederhana dari grafika komputer adalah grafika komputer 2D yang kemudian berkembang menjadi grafika komputer 3D, pemrosesan citra (image processing), dan pengenalan pola (pattern recognition). Grafika komputer sering dikenal juga dengan istilah visualisasi data.

Hasil dari rendering

Hasil dari rendering

Bagian dari grafika komputer meliputi:

  • Geometri: mempelajari cara menggambarkan permukaan bidang
  • Animasi: mempelajari cara menggambarkan dan memanipulasi gerakan
  • Rendering: mempelajari algoritma untuk menampilkan efek cahaya
  • Citra (Imaging): mempelajari cara pengambilan dan penyuntingan gambar.

Pengertian lain:
Grafika komputer adalah representasi dari data geometrik 3 dimensi sebagai hasil dari pemrosesan dan pemberian efek cahaya terhadap grafika komputer 2D. Hasil ini kadang kala ditampilkan secara waktu nyata (real time) untuk keperluan simulasi. Secara umum prinsip yang dipakai adalah mirip dengan grafika komputer 2D, dalam hal: penggunaan algoritma, grafika vektor, model frame kawat (wire frame model), dan grafika rasternya.Grafika komputer 3D sering disebut sebagai model 3D. Namun, model 3D ini lebih menekankan pada representasi matematis untuk objek 3 dimensi. Data matematis ini belum bisa dikatakan sebagai gambar grafis hingga saat ditampilkan secara visual pada layar komputer atau printer. Proses penampilan suatu model matematis ke bentuk citra 2 D biasanya dikenal dengan proses 3D rendering.

Contoh grafika komputer 3D

Pendahuluan Grafik Komputer Menggunakan DELPHI

MENGGUNAKAN DELPHI

Dengan system operasi Windows yang berbasis grafis, maka perancangan tampilan aplikasi menjadi sangat fleksibel. Antarmuka pengguna(user interface) dapat dirancang dengan bebas, tidak harus mengikuti antarmuka Windows. Untuk interaksi dengan pengguna, Delphi juga telah menyediakan berbagai komponen visual yang siap pakai.

Demikian juga dengan data keluaran yang akan disajikan. Data dapat disajikan dalam bentuk grafik, gambar, animasi dan kombinasi ketiganya.

Dengan grafik, ide-ide visualisasi yang diinginkan baik oleh pengembang maupun pengguna dapat direalisasikan dengan mudah.

<!–[if !supportLists]–>1.1. <!–[endif]–>KANVAS : MENGGAMBAR ATAU MELUKIS?

Untuk bekerja dalam lingkungan grafis yang pertama kali perlu diketahui adalah sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Perangkat (tool) apa yang diperlukan untuk pemrograman grafik

<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Perangkat apa yang telah disediakan oleh DELPHI mapun Windows

 

Analogi dengan menggambarkan kertas(kanvas) tersebut.

3 Elemen dasar pada pemrograman grafik,yaitu :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kanvas(TCanvas)

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Pensil(TPen) : merupakan obyek properties

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Kuas(TBrush). Merupakan obyek properties

Setiap grafik memerlukan kanvas. Dengan Pen dan Brush, kanvas tersebut diisi gambar.

<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>

  • Pen :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>untuk corat-coret membuat garis.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>digunakan untuk mengatur gaya,warna dan ketebalan garis

  • <!–[if !supportLists]–>Brush :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>untuk menyapu kanvas dengan warna tertentu.

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>digunakan untuk mengatur warna dan gaya sapuan pada kanvas.

Obyek Kanvas menyediakan alat bantu gambar yang cukup lengkap, antara lain :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>membuat garis lurus

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>membuat busur

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>membuat bentuk-bentuk geometris seperti : segiempat, elips, dan poligon

Untuk membuat corat-coret pada kanvas, DELPHI menggunakan 2 istilah yang perlu dicermati, yaitu :

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Menggambar

<!–[if !supportLists]–>- <!–[endif]–>Melukis

Menggambar(drawing) :

membuat sebuah elemen grafik seperti garis bentuk lainnya, menggunakan baris-baris perintah. Perintah tersebut untuk mengatur antara lain posisi,warna, dan warna lain-lain. Contoh fasilitas penggambaran grafik yang disediakan antara lain : LineTo(), Rectangle(), Ellipse(), dan lain-lain.

Melukis (painting) :

Membuat tampilan menyeluruh sebuah obyek. Melukis biasanya melibatkan proses menggambar. Contohnya adalah komponen kotak edit(TEdit), yang menampilkan dirinya dengan menggambar (menuliskan) teks didalamnya.

Contoh lainnya :

- menampilkan gambar pada komponen citra(TImage).

Contoh fasilitas melukis antara lain Draw(), StrechDraw(), BrushCopy() dan lain-lainnya.

Grafik Komputer dan Percetakan  Kemudahan yang disediakan ialah membuat grafik komputer, mencetak ke mesin cetak warna. Bahagian ini juga membantu dalam penyediaan backdrop, kartografi (lukisan berskala), melukis peta, gambarajah, rekabentuk bahan cetakan.Unit ini mempunyai peralatan dan perkakasan yang lengkap untuk penghasilan pelbagai bentuk grafik untuk keperluan dan kegunaan universiti, ini termasuklah mesin pencetak warna Color LaserJet 8500, mesin pencetak ploter HP DesignJet 750C dan sebagainya

*Perkakasan-perkakasan yang digunakan untuk penghasilan pelbagai bentuk grafik

Di samping peralatan-peralatan, perisian-perisian grafik seperti Adobe Photoshop, Macromedia Freehand, Fireworks, Paint Shop Pro, 3D Studio, CorelDraw dan lain-lain juga boleh didapati.Tenaga kerja yang menghasilkan pelbagai bentuk grafik di unit ini mempunyai kepakaran dan kreativiti yang tersendiri.

 

Teknologi Grafika Terus Berubah

 

Perkembangan teknologi dan pasar grafika yang terus berubah cepat menjadikan para pelaku industri tersebut tertuntut harus bisa menyesuaikannya. Apabila tidak, maka bisa jadi perusahaan itu akan kehilangan daya saing. Wagiyanto, pemilik usaha percetakan CV Karangasem, mengatakan pameran grafika bisa memberikan informasi soal perkembangan industri grafika terbaru. Berbagai ragam informasi yang diterima antara lain, tren produk, pemasaran, karakter konsumen, hingga teknologi produksi. Perkembangan itu lantas dibandingkan dengan kemampuan yang sudah dimiliki perusahaan. Bila jauh tertinggal, maka sudah saatnya perusahaan mengejar ketertinggalan itu. ”Kalau kita amati perkembangan mesin-mesin produksi grafika, terlihat peningkatan teknologi yang pesat. Misalnya saja dari sisi waktu, kini banyak mesin yang menawarkan proses cetak yang hanya dalam hitungan menit. Dengan adanya teknologi maju itu, konsumen bisa memilih industri grafika yang bisa mengerjakan dengan cepat. Kalau perlu ditunggu,” katanya Senin (23/4). Faktor waktu memang menjadi daya tarik bagi industri grafika, di samping juga tarif yang murah. Harga pokok produksi bisa ditekan dengan penggunaan alat berteknologi terbaru. Banyaknya perusahaan sejenis menjadikan mereka berlomba-lomba menawarkan diri dengan pelayanan yang terbaik. Untuk mendapatkannya tentu dengan perusahaan harus berinvestasi teknologi terbaru. ”Apalagi, saat ini, perusahaan leasing banyak yang berminat membidik sektor industri ini. Bahkan melalui Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) Jateng akses pembiayaan ini menjadi mudah”. Selama ini, Wagiyanto menekuni usaha jasa percetakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan lembar ujian siswa. Jenis usaha itu tentunya memiliki pelanggan tetap. Meski demikian bukan berarti ia bisa santai dengan hanya menunggu order. Ia tetap proaktif mencari sasaran konsumen untuk terus memperluas pasar. Salah satunya dengan melakukan jemput bola. Pameran grafika ”Print2Pack” yang digelar PPGI Jateng tersebut akan digelar di PRPP Convention Center Semarang 26-28 April mendatang. (H22-59 )

 

Aplikasi Komputer Grafis Melalui Teknologi CGI    
Di Balik Film Animasi

Kalau kita tengok ke belakang, ”Toy Story” (1995), film debutan Pixar yang dibiayai dan dipasarkan The Walt Disney Company itu sukses besar sebagai film pertama yang secara penuh menggunakan teknologi komputer. Sejak saat itu studio animasi digital lain seperti Blue Sky Studios (Fox), DNA Productions (Paramount Pictures and Warner Bros.), Onation Studios (Paramount Pictures), Sony Pictures Animation (Columbia Pictures), DreamWorks, dan yang lainnya tak mau ketinggalan untuk memproduksi film sejenis.

Tentu tak sedikit dari kita yang mempertanyakan dengan teknologi apa dan bagaimana film-film kreatif ini dibuat. Ternyata, kunci pembuatan film-film ini adalah sebuah aplikasi komputer grafis yang disebut computer generated imagery (CGI). Dengan perangkat lunak ini bisa diciptakan gambar 3D lengkap dengan berbagai efek yang dikehendaki. Beberapa software CGI populer antara lain Art of Illusion (bisa di-download di sourceforce.net), Maya, Blender, dan lain-lain.

CGI 2D dipakai pertama kali pada film ”Westworld” (1973) karya novelis scifi Michael Crichton dan sekuelnya ”Futureworld” (1976) menggunakan CGI 3D untuk membuat tangan dan wajah yang dikerjakan oleh Edwin Catmull, ahli komputer grafik dari New York Institute of Technology (NYIT). Tapi, tidak semua film berhasil memberikan sentuhan animasi yang bagus. Film ”Tron” (1982) dan ”The Last Starfighter” (1984) termasuk yang gagal karena efek yang mereka berikan kelihatan sekali buatan komputer.

Revolusi ”Jurassik Park”

Teknologi CGI biasa dipakai dalam pembuatan film, program televisi, dan beberapa iklan komersial, termasuk media cetak. Aplikasi ini memberikan kualitas grafis yang sangat tinggi dengan efek yang lebih terkontrol daripada metode konvensional seperti membuat miniatur untuk pembuatan adegan kecelakaan yang dramatis atau menambah aktor figuran untuk menggambarkan suasana keramaian penuh sesak.

Di tahun 1991 film ”Terminator 2: Judgement Day” yang dibintangi Gubernur California sekarang Arnold Schwarzeneger membuat decak kagum penonton dengan efek morphing (perubahan dari satu wajah/bentuk ke wajah/bentuk yang lain secara halus) dan liquid metal si penjahat pada beberapa aksinya. Dua tahun kemudian film legendaris tentang dinosaurus, ”Jurassic Park” juga memberikan efek visual yang mengagumkan pada makhluk purba itu sehingga tampak betul-betul hidup. ”Jurassic Park” membawa revolusi pada industri perfilman dan Hollywood bertransisi dari animasi konvensional menjadi teknik digital.

Tahun berikutnya, ”Forrest Gump”, film drama dengan aktor tersohor Tom Hanks, juga memanfaatkan teknologi CGI untuk efek menghilangkan salah satu kaki Letnan Dan (dimainkan Gary Sinise) agar tampak pincang betulan. Efek lainnya adalah pergerakan bola ping-pong yang sangat cepat ketika dimainkan oleh Tom Hanks. Bahkan, adegan dengan efek bulu melayang di udara merupakan garapan sebuah studio animasi di Bandung.

Digital grading”

CGI pun semakin mendarah daging dalam industri perfilman modern selanjutnya. Mulai tahun 2000-an, CGI memegang peran dominan untuk pemberian efek visual pada sebuah film.

Teknologinya pun berkembang sehingga memungkinkan dalam sebuah adegan berbahaya, sang aktor digantikan oleh aktor ciptaan komputer dengan perbedaan yang tidak kentara. Figuran yang diciptakan dengan komputer seperti pada triloginya Peter Jackson, ”Lord of The Ring”, pun banyak dipakai untuk menciptakan adegan keramaian penuh sesak, tentu dengan bantuan perangkat lunak simulasi.

Salah satu efek CGI dalam film yang kurang dikenal, namun penting, adalah digital grading. Dengan efek ini warna asli hasil shooting direvisi menggunakan perangkat lunak untuk memberikan kesan sesuai dengan skenario. Contohnya wajah Sean Bean (pemeran Boromir) dalam ”The Lord of the Rings: the Two Tower” ketika mati dibuat lebih pucat. Jadi, tidak dengan trik kosmetik, tetapi dengan polesan komputer.

Lantas, bagaimana dengan mimik wajah yang bisa mengekspresikan perasaan haru, sedih, ataupun gembira pada tokoh ciptaan komputer? Dalam pembuatannya, animasi komputer mengkombinasikan vektor grafik dengan pergerakan yang sudah terprogram. Bagian-bagian utama seperti pada wajah, tangan, kaki, dll terdiri dari sejumlah variabel animasi yang akan dikendalikan dengan pemberian nilai tertentu untuk menampilkan ekspresi atau mimik wajah yang dikehendaki.

Tokoh Woody dalam ”Toy Story” terdiri dari 700 variabel animasi dengan 100 variabelnya sendiri untuk wajahnya saja. Jadi, tidak heran berbagai ekspresi wajah seperti tertawa, terkejut, dan sedih bisa dibuat dengan mempermainkan 100 variabel tadi.

Cukup mahal

Sekumpulan variabel dengan nilai yang berubah pada setiap frame yang ditampilkan berurutan menjadi kontrol pergerakan figur tersebut. Hebatnya, animator ”Toy Story” mengendalikan variabel-variabel animasinya secara manual. Bisa jadi, bagi seorang animator yang berbakat, terampil dan berpengalaman malah menghasilkan efek yang lebih bagus dibanding acting orang asli.

Kalau dilihat dari ukurannya, satu frame CGI untuk film biasanya dibuat berukuran 1,4–6 megapiksel. Contohnya, ”Toy Story” berukuran 1536 x 922 (1,42 megapiksel). Bayangkan saja, ternyata waktu yang dibutuhkan untuk rendering tiap frame sekira 2-3 jam, bahkan bisa 10 kali lebih lama untuk menciptakan adegan yang sangat kompleks. Meskipun kecepatan CPU makin tinggi, tidak banyak mengubah waktu yang dibutuhkan karena mereka akan membuat adegan yang lebih kompleks lagi untuk hasil yang lebih bagus lagi. Kendati demikian, dengan peningkatan eksponensial kecepatan CPU, teknologi CGI juga makin potensial ke depan.

Sebagai gambaran, untuk pembuatan film ”Madagascar”, para teknisi menggunakan 2.500 komputer Linux Cluster yang dipasang di dua studio Dream Works dan lab penelitian komputer Hewlett Packard di Palo Alto, California. Komputer sebanyak itu digunakan untuk ”tugas besar” siang malam rendering frame demi frame film berukuran gigabit. Untuk membuat film ”Madagascar” sampai jadi, dibutuhkan waktu lebih dari 11 juta jam.

Menurut Andy Hendrickson, kepala produksi DreamWorks, separuh dari anggaran biaya produksi yang kabarnya mencapai 90 juta dolar AS dipergunakan untuk animasi komputer. Dalam produksinya itu DreamWorks sekaligus menciptakan beberapa teknik yang bisa digunakan lagi untuk film-film animasi selanjutnya.

Penutup

Tidak semua film ciptaan komputer berjalan mulus menjadi box office di pasaran. Contohnya, film yang dikembangkan dari sebuah game yaitu ”Final Fantasy: The Spirit Within” (2001). Meski terkenal sebagai film pertama yang menciptakan tokoh manusia dengan CGI, tapi pasar tak antusias menyambutnya. Tak heran bila setelah produksi ke-2 ”Final Flight of the Osiris” sebuah film pendek sebagai prolog film ”The Matrix Reloaded”, Square Pictures gulung tikar.

Pengembangan teknologi CGI terus dilaporkan setiap tahun pada konferensi tahunan SIGGRAPH mengenai komputer grafis dan teknik interaktif yang dihadiri oleh puluhan ribu profesional komputer. Di sini para tokoh di balik penciptaan animasi-animasi bertemu. Bukan hal yang tidak mungkin suatu hari kelak para animator Indonesia pun akan banyak berbicara di pentas dunia.

GIS

Posted On September 30, 2007

Filed under tugas

Comments Dropped leave a response

Techniques used in GIS

Data creation

Modern GIS technologies use digital information, for which various digitized data creation methods are used. The most common method of data creation is digitization, where a hard copy map or survey plan is transferred into a digital medium through the use of a computer-aided design (CAD) program, and geo-referencing capabilities. With the wide availability of ortho-rectified imagery (both from satellite and aerial sources), heads-up digitizing is becoming the main avenue through which geographic data is extracted. Heads-up digitizing involves the tracing of geographic data directly on top of the aerial imagery instead of through the traditional method of tracing the geographic form on a separate digitizing tablet.

Relating information from different sources

If you could relate information about the rainfall of your state to aerial photographs of your county, you might be able to tell which wetlands dry up at certain times of the year. A GIS, which can use information from many different sources in many different forms, can help with such analyses. The primary requirement for the source data consists of knowing the locations for the variables. Location may be annotated by x, y, and z coordinates of longitude, latitude, and elevation, or by other geocode systems like ZIP Codes or by highway mile markers. Any variable that can be located spatially can be fed into a GIS. Several computer databases that can be directly entered into a GIS are being produced by government agencies and non-government organizations[citation needed]. Different kinds of data in map form can be entered into a GIS.

A GIS can also convert existing digital information, which may not yet be in map form, into forms it can recognize and use. For example, digital satellite images generated through remote sensing can be analyzed to produce a map-like layer of digital information about vegetative covers. Another fairly developed resource for naming GIS objects is the Getty Thesaurus of Geographic Names (GTGN), which is a structured vocabulary containing around 1,000,000 names and other information about places[1].

Likewise, census or hydrologic tabular data can be converted to map-like form, serving as layers of thematic information in a GIS.

Data representation

GIS data represents real world objects (roads, land use, elevation) with digital data. Real world objects can be divided into two abstractions: discrete objects (a house) and continuous fields (rain fall amount or elevation). There are two broad methods used to store data in a GIS for both abstractions: Raster and Vector.

Raster

Digital elevation model, map (image), and vector data

Digital elevation model, map (image), and vector data

Raster data type consists of rows and columns of cells where in each cell is stored a single value. Raster data can be images (raster images) with each pixel (or cell) containing a color value. Additional values recorded for each cell may be a discrete value, such as land use, a continuous value, such as temperature, or a null value if no data is available. While a raster cell stores a single value, it can be extended by using raster bands to represent RGB (red, green, blue) colors, colormaps (a mapping between a thematic code and RGB value), or an extended attribute table with one row for each unique cell value. The resolution of the raster data set is its cell width in ground units.

Raster data is stored in various formats; from a standard file-based structure of TIF, JPEG, etc. to binary large object (BLOB) data stored directly in a relational database management system (RDBMS) similar to other vector-based feature classes. Database storage, when properly indexed, typically allows for quicker retrieval of the raster data but can require storage of millions of significantly-sized records.

Vector

Vector data type uses geometries such as points, lines (series of point coordinates), or polygons, also called areas (shapes bounded by lines), to represent objects. Examples include property boundaries for a housing subdivision represented as polygons and well locations represented as points. Vector features can be made to respect spatial integrity through the application of topology rules such as ‘polygons must not overlap’. Vector data can also be used to represent continuously varying phenomena. Contour lines and triangulated irregular networks (TIN) are used to represent elevation or other continuously changing values. TINs record values at point locations, which are connected by lines to form an irregular mesh of triangles. The face of the triangles represent the terrain surface.

Advantages and disadvantages

There are advantages and disadvantages to using a raster or vector data model to represent reality. Raster data sets record a value for all points in the area covered which may require more storage space than representing data in a vector format that can store data only where needed. Raster data also allows easy implementation of overlay operations, which are more difficult with vector data. Vector data can be displayed as vector graphics used on traditional maps, whereas raster data will appear as an image that may have a blocky appearance for object boundaries. Vector data can be easier to register, scale, and re-project. This can simplify combining vector layers from different sources. Vector data are more compatible with relational database environment. They can be part of a relational table as a normal column and processes using a multitude of operators.

History of development

About 35,000 years ago, on the walls of caves near Lascaux, France, Cro-Magnon hunters drew pictures of the animals they hunted.[1] Associated with the animal drawings are track lines and tallies thought to depict migration routes. While simplistic in comparison to modern technologies, these early records mimic the two-element structure of modern geographic information systems, an image associated with attribute information.[2]

Possibly the earliest use of the geographic method, in 1854 John Snow depicted a cholera outbreak in London using points to represent the locations of some individual cases.[3] His study of the distribution of cholera led to the source of the disease, a contaminated water pump within the heart of the cholera outbreak.

E.W. Gilbert's version (1958) of John Snow's 1855 map of the Soho cholera outbreak showing the clusters of cholera cases in the London epidemic of 1854

E.W. Gilbert’s version (1958) of John Snow‘s 1855 map of the Soho cholera outbreak showing the clusters of cholera cases in the London epidemic of 1854

While the basic elements of topology and theme existed previously in cartography, the John Snow map was unique, using cartographic methods, not only to depict but also to analyze, clusters of geographically dependent phenomena for the first time.

The early 20th century saw the development of “photo lithography” where maps were separated into layers. Computer hardware development spurred by nuclear weapon research would lead to general purpose computer “mapping” applications by the early 1960s.[4]

The year 1962 saw the development of the world’s first true operational GIS in Ottawa, Ontario, Canada by the federal Department of Forestry and Rural Development. Developed by Dr. Roger Tomlinson, it was called the “Canada Geographic Information System” (CGIS) and was used to store, analyze, and manipulate data collected for the Canada Land Inventory (CLI)—an initiative to determine the land capability for rural Canada by mapping information about soils, agriculture, recreation, wildlife, waterfowl, forestry, and land use at a scale of 1:50,000. A rating classification factor was also added to permit analysis.

CGIS was the world’s first “system” and was an improvement over “mapping” applications as it provided capabilities for overlay, measurement, and digitizing/scanning. It supported a national coordinate system that spanned the continent, coded lines as “arcs” having a true embedded topology, and it stored the attribute and locational information in separate files. As a result of this, Tomlinson has become known as the “father of GIS,” particularly for his use of overlays in promoting the spatial analysis of convergent geographic data.[5] CGIS lasted into the 1990s and built the largest digital land resource database in Canada. It was developed as a mainframe based system in support of federal and provincial resource planning and management. Its strength was continent-wide analysis of complex data sets. The CGIS was never available in a commercial form.

In 1964, Howard T Fisher formed the Laboratory for Computer Graphics and Spatial Analysis at the Harvard Graduate School of Design (LCGSA 1965-1991), where a number of important theoretical concepts in spatial data handling were developed, and which by the 1970s had distributed seminal software code and systems, such as ‘SYMAP’, ‘GRID’, and ‘ODYSSEY’ — which served as literal and inspirational sources for subsequent commercial development — to universities, research centers, and corporations worldwide.[6]

By the early 1980s, M&S Computing (later Intergraph), Environmental Systems Research Institute (ESRI) and CARIS emerged as commercial vendors of GIS software, successfully incorporating many of the CGIS features, combining the first generation approach to separation of spatial and attribute information with a second generation approach to organizing attribute data into database structures. The later 1980s and 1990s industry growth were spurred on by the growing use of GIS on Unix workstations and the personal computer. By the end of the 20th century, the rapid growth in various systems had been consolidated and standardized on relatively few platforms and users were beginning to export the concept of viewing GIS data over the Internet, requiring data format and transfer standards. More recently, there is a growing number of free, open source GIS packages which run on a range of operating systems and can be customized to perform specific tasks.

The future of GIS

GeaBios – tiny WMS/WFS client (Flash/DHTML)

Many disciplines can benefit from GIS technology. An active GIS market has resulted in lower costs and continual improvements in the hardware and software components of GIS. These developments will, in turn, result in a much wider use of the technology throughout science, government, business, and industry, with applications including real estate, public health, crime mapping, national defense, sustainable development, natural resources, landscape architecture, archaeology, regional and community planning, transportation and logistics. GIS is also diverging into location-based services (LBS). LBS allows GPS enabled mobile devices to display their location in relation to fixed assets (nearest restaurant, gas station, fire hydrant), mobile assets (friends, children, police car) or to relay their position back to a central server for display or other processing. These services continue to develop with the increased integration of GPS functionality with increasingly powerful mobile electronics (cell phones, PDA’s, laptops).

OGC standards

Open Geospatial Consortium (OGC) in short is an international industry consortium of 333 companies, government agencies and universities participating in a consensus process to develop publicly available geoprocessing specifications. Open interfaces and protocols defined by OpenGIS Specifications support interoperable solutions that “geo-enable” the Web, wireless and location-based services, and mainstream IT, and empower technology developers to make complex spatial information and services accessible and useful with all kinds of applications.

GIS products are broken down by the OGC into two categories, based on how completely and accurately the software follows the OGC specifications.

Compliant Products are software products that comply to OGC’s OpenGIS® Specifications. When a product has been tested and certified as compliant through the OGC Testing Program, the product is automatically registered as “compliant” on this site.

Implementing Products are software products that implement OpenGIS Specifications but have not yet passed a compliance test. Compliance tests are not available for all specifications. Developers can register their products as implementing draft or approved specifications, though OGC reserves the right to review and verify each entry.

Poster side 1

Geographic information system (GIS) technology can be used for scientific investigations, resource management, and development planning. For example, a GIS might allow emergency planners to easily calculate emergency response times in the event of a natural disaster, or a GIS might be used to find wetlands that need protection from pollution.

What is a GIS?

A GIS is a computer system capable of capturing, storing, analyzing, and displaying geographically referenced information; that is, data identified according to location. Practitioners also define a GIS as including the procedures, operating personnel, and spatial data that go into the system.

How does a GIS work?

Relating information from different sources

The power of a GIS comes from the ability to relate different information in a spatial context and to reach a conclusion about this relationship. Most of the information we have about our world contains a location reference, placing that information at some point on the globe. When rainfall information is collected, it is important to know where the rainfall is located. This is done by using a location reference system, such as longitude and latitude, and perhaps elevation. Comparing the rainfall information with other information, such as the location of marshes across the landscape, may show that certain marshes receive little rainfall. This fact may indicate that these marshes are likely to dry up, and this inference can help us make the most appropriate decisions about how humans should interact with the marsh. A GIS, therefore, can reveal important new information that leads to better decisionmaking.

Many computer databases that can be directly entered into a GIS are being produced by Federal, State, tribal, and local governments, private companies, academia, and nonprofit organizations. Different kinds of data in map form can be entered into a GIS (figs. 1a, 1b, 1c, 1d, 1e, 1f, and 2). A GIS can also convert existing digital information, which may not yet be in map form, into forms it can recognize and use. For example, digital satellite images can be analyzed to produce a map of digital information about land use and land cover (figs. 3 and 4). Likewise, census or hydrologic tabular data can be converted to a maplike form and serve as layers of thematic information in a GIS (figs. 5 and 6).

A line map showing roads with different colored lines representing types of roads.

Figure 1a. U.S. Geological Survey (USGS) digital line graph (DLG) data of roads.

A line map with various colors representing bodies of water and streams/rivers.

Figure 1b. USGS DLG of rivers.

A map showing contour lines.

Figure 1c. USGS DLG of contour lines (hypsography).

A black and white picture showing DEM shadings representing contours.

Figure 1d. USGS digital elevation (DEM).

A section of a color topographic map.

Figure 1e. USGS scanned, rectified topographic map called a digital raster graphic (DRG).

A black and white picture of map overlaying an aerial photograph.

Figure 1f. USGS digital orthophoto quadrangle (DOQ).

A section of a color geologic map.

Figure 2. USGS geologic map.

A colored modified satellite image.

Figure 3. Landsat 7 satellite image from which land cover information can be derived.

A color picture showing an analysis graphic.

Figure 4. Satellite image data in figure 3 have been analyzed to indicate classes of land uses and cover.

A color picture showing part of a computer screen display.

Figure 5. Part of a census data file containing address information.

A black and white picture of computer screen display of a graph.

Figure 6. Part of a hydrologic data report indicating the discharge and amount of river flow recorded by a particular streamgage that has a known location.

|| ↑ Top ||

Data capture

How can a GIS use the information in a map? If the data to be used are not already in digital form, that is, in a form the computer can recognize, various techniques can capture the information. Maps can be digitized by hand-tracing with a computer mouse on the screen or on a digitizing tablet to collect the coordinates of features. Electronic scanners can also convert maps to digits (fig. 7). Coordinates from Global Positioning System (GPS) receivers can also be uploaded into a GIS (fig. 8).

A color photograph showing two women operating a scanner and a computer.

Figure 7. Scanning paper maps to produce digital data files for input into a GIS.

A color photograph showing a man sitting in a field working with GPS receiver.

Figure 8. Collecting latitude and longitude coordinates with a Global Positioning System (GPS) receiver.

A GIS can be used to emphasize the spatial relationships among the objects being mapped. While a computer-aided mapping system may represent a road simply as a line, a GIS may also recognize that road as the boundary between wetland and urban development between two census statistical areas.

Data capture—putting the information into the system—involves identifying the objects on the map, their absolute location on the Earth’s surface, and their spatial relationships. Software tools that automatically extract features from satellite images or aerial photographs are gradually replacing what has traditionally been a time-consuming capture process. Objects are identified in a series of attribute tables—the “information” part of a GIS. Spatial relationships, such as whether features intersect or whether they are adjacent, are the key to all GIS-based analysis.

|| ↑ Top ||

Data integration

A GIS makes it possible to link, or integrate, information that is difficult to associate through any other means. Thus, a GIS can use combinations of mapped variables to build and analyze new variables (fig. 9).

A color diagram showing how information is processed.

Figure 9. Data integration is the linking of information in different forms through a GIS.

For example, using GIS technology, it is possible to combine agricultural records with hydrography data to determine which streams will carry certain levels of fertilizer runoff. Agricultural records can indicate how much pesticide has been applied to a parcel of land. By locating these parcels and intersecting them with streams, the GIS can be used to predict the amount of nutrient runoff in each stream. Then as streams converge, the total loads can be calculated downstream where the stream enters a lake.

|| ↑ Top ||

Projection and registration

A property ownership map might be at a different scale than a soils map. Map information in a GIS must be manipulated so that it registers, or fits, with information gathered from other maps. Before the digital data can be analyzed, they may have to undergo other manipulations—projection conversions, for example—that integrate them into a GIS.

Projection is a fundamental component of mapmaking. A projection is a mathematical means of transferring information from the Earth’s three-dimensional, curved surface to a two-dimensional medium—paper or a computer screen. Different projections are used for different types of maps because each projection is particularly appropriate for certain uses. For example, a projection that accurately represents the shapes of the continents will distort their relative sizes.

Since much of the information in a GIS comes from existing maps, a GIS uses the processing power of the computer to transform digital information, gathered from sources with different projections, to a common projection (figs. 10a and b).

A section of a line map with a color  overlay incorrectly aligned with the lines.

Figure 10a. An elevation image classified from a satellite image of Minnesota exists in a different scale and projection than the lines on the digital file of the State and province boundaries.

A section of a line map with the corrected color overlay.

Figure 10b. The elevation image has been reprojected to match the projection and scale of the State and province boundaries.

|| ↑ Top ||

Data structures

Can a land use map be related to a satellite image, a timely indicator of land use? Yes, but because digital data are collected and stored in different ways, the two data sources may not be entirely compatible. Therefore, a GIS must be able to convert data from one structure to another.

Satellite image data that have been interpreted by a computer to produce a land use map can be “read into” the GIS in raster format. Raster data files consist of rows of uniform cells coded according to data values. An example is land cover classification (fig. 11). Raster files can be manipulated quickly by the computer, but they are often less detailed and may be less visually appealing than vector data files, which can approximate the appearance of more traditional hand-drafted maps. Vector digital data have been captured as points, lines (a series of point coordinates), or areas (shapes bounded by lines) (fig. 12). An example of data typically held in a vector file would be the property boundaries for a particular housing subdivision.

A grid of numbers representing raster data.

Figure 11. Example of the structure of a raster file.

A color map showing vector data.

Figure 12. Example of the structure of a vector data file.

Data restructuring can be performed by a GIS to convert data between different formats. For example, a GIS can be used to convert a satellite image map to a vector structure by generating lines around all cells with the same classification, while determining the spatial relationships of the cell, such as adjacency or inclusion (fig. 13).

A color section of a raster map.

Figure 13a. Magnified view of the same GIS data file, shown in raster format.

A color diagram of a map in vector format.

Figure 13b. Magnified views of the same GIS data file. converted into vector format.

|| ↑ Top ||

Data modeling

It is impossible to collect data over every square meter of the Earth’s surface. Therefore, samples must be taken at discrete locations. A GIS can be used to depict two- and three-dimensional characteristics of the Earth’s surface, subsurface, and atmosphere from points where samples have been collected.

For example, a GIS can quickly generate a map with isolines that indicate the pH of soil from test points (figs. 14 and 15). Such a map can be thought of as a soil pH contour map. Many sophisticated methods can estimate the characteristics of surfaces from a limited number of point measurements. Two- and three-dimensional contour maps created from the surface modeling of sample points from pH measurements can be analyzed together with any other map in a GIS covering the area.

A color map section showing points with numbers.

Figure 14. Points with pH values of oil.

A color map showing points and contours.

Figure 15. Contour map made from soil pH values shown in figure 14.

 

 

XML Dalam Sistem Informasi Geografi

Kita telah mengenal berbagai format proprietary dari aplikasi-aplikasi SIG yang berbeda-beda, baik dari segi vendor-nya maupun perbedaan versi dari tiap format. Lumrah saja, karena tiap vendor menginginkan format yang efisien dan sesuai dengan aplikasi yang mereka buat. Terdapat fungsi dan aplikasi untuk korvesi antar format, tapi tidak selalu memadai karena ada keunikan dari tiap format yang belum tentu dapat dikonversi ke format lain.

Hal ini juga menjadi hambatan untuk webmapping , karena setiap aplikasi akan memerlukan client environment yang berbeda-beda pula. Tidak semua orang bersedia menginstall software tersendiri (applet khusus, plug-ins tertentu dll) bagi tiap aplikasi webmap yang ingin mereka lihat.

Karena perbedaan format menghambat pemanfaatan data geografis secara lebih luas, diperlukan cara pertukaran data yang dapat dipahami secara global. Fungsi ini dapat dipenuhi oleh XML (eXtensible Markup Language).

eXtensible Markup Language

XML adalah bahasa markup yang menyediakan sintaks yang lentur (dapat dikembangkan sesuai kebutuhan) dan independen (tidak tergantung sistem platform). Jadi sesuai untuk sarana pertukaran data antar berbagai ragam sistem, baik lewat internet atau jalur lain [1].

Format ini merupakan rekomendasi dari World Wide Web Consortium. XML memungkinkan untuk memuat baik data koordinat, data penyerta dan instruksi yang menyatakan jenis perlakuan terhadap data tersebut. Perlakuan itu dapat berupa transformasi data ke bentuk lain ataupun untuk menyatakan bagaimana data ditampilkan.

Penggunaan XML memungkinkan penerapan internet SIG dalam bentuk yang lebih terbuka, murah dan beragam tapi tetap kompatibel. Hal tersebut dapat diwujudkan oleh beberapa subset/turunan dari XML, yaitu SVG, XSL dan GML. Dunia XML memang penuh dengan akronim tiga huruf yang kadang membingungkan, untuk itu masing-masing akan coba dipaparkan secara singkat.

Scalable Vector Graphics

Untuk keperluan SIG, tentunya diperlukan format untuk tampilan data spasial. Karena XML bersifat general, maka untuk keperluan grafis diperkenalkan suatu subset XML yaitu SVG (Scalable Vector Graphics), suatu standar terbuka untuk grafik 2D yang merupakan rekomendasi dari W3C [2].


Peta Geologi gabungan vektor dan raster[15]

Penggunaan SVG dalam SIG telah memberikan dampak terutama terhadap aplikasi webmap. Contoh tampilan webmap interaktif yang menggunakan SVG sudah cukup banyak saat ini, seperti gambar di kiri.

SVG memungkinkan penggunaan vektor yang memberikan banyak keunggulan dibanding format raster yang selama ini kita kenal. SVG juga dilengkapi dengan SVG DOM (Document Object Model) untuk membuat peta yang interaktif. Terdapat juga spesifikasi untuk mobile devices (SVG tiny) [2] dan browser phones (pSVG) [8,9]. SVG juga dapat dikompresi sehingga menurunkan ukuran transfer secara signifikan.

Dengan kemampuan SVG untuk memuat data vektor, bitmap dan teks, orang akan menganggap hanya dengan SVG sudah cukup. Dan memang saat ini sudah banyak contoh webmap yang menggunakan SVG, baik untuk tampilan dan data penyertanya [7].

Walau demikian, ada beberapa hal yang tidak tercakup dalam spesifikasi SVG. Misalnya mengenai standar link feature terhadap data, sistem referensi spasial yang digunakan, feature buffer atau standar skema data spasial.
Memang sengaja tidak dicakup karena SVG adalah suatu format grafis umum yang tidak hanya digunakan untuk aplikasi SIG, sehingga pertukaran data secara terbuka akan rumit jika hanya mengandalkan SVG. Untuk itu diperlukan subset XML lain, yaitu GML.
Geographic Markup Language

GML adalah suatu subset XML untuk transformasi dan penyimpanan informasi geografis, baik data spatial ataupun non spatial dari suatu obyek geografis. GML adalah spesifikasi dari OpenGIS Consortium.

GML menyediakan framework yang terbuka dan independen untuk mendefinisikan obyek dan skema dari suatu aplikasi SIG. Hal ini meningkatkan kemampuan untuk berbagi skema dan informasi geografis [5]. Format ini juga berperan penting dalam implementasi Web Feature Server (WFS).

WFS adalah suatu modul yang mengimplementasikan interface standar untuk operasi data spasial yang berada dalam suatu datastore [5]. Datastore tersebut dapat berupa general SQL database, flat XML file, spasial database, proprietary format dll, dan manipulasi terhadap datanya dapat dilakukan melalui Web. HTTP server adalah server yang dapat melayani HTTP request. Aplikasi klien adalah aplikasi yang berkomunikasi dengan web server menggunakan HTTP, misalnya suatu browser.

Standar yang interoperable mempermudah klien dalam menggunakan web sebagai sarana mengakses data geografis dan servis geografis lainnya. Tentu saja, GML hanya mengatur mengenai skema dan penulisan data spasial, sedangkan untuk menampilkannya dapat menggunakan SVG.

Extensible Stylesheet Language

XSL merupakan subset dari XML yang direkomendasikan W3C untuk mendefinisikan stylesheets [3]. Suatu dokumen XML dengan struktur tertentu dapat diproses oleh suatu XSL stylesheet menjadi bentuk lain yang diinginkan. Karena XSL adalah bahasa prosedural, XSL hanya berfungsi jika diterjemahkan menggunakan XSL Transformation (XSLT) [4].

XSL dipergunakan untuk mentransformasikan data (GML) menjadi tampilan grafis di klien (SVG). Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan prosesor untuk XSLT seperti Xalan atau Saxon. Di server hal ini dapat dilakukan secara otomatis untuk menghasilkan SVG. Sedangkan di sisi klien hal ini – paling tidak saat ini – masih harus dilakukan secara manual, karena browser belum memberikan keleluasaan untuk itu.

Cara lain untuk mengubah GML menjadi SVG, adalah dengan langsung mengakses Document Object Model, baik di server ataupun di klien. Di server, dapat dilakukan dengan menggunakan servlet, atau server scripts, atau aplikasi lain yang mampu mengakses DOM dari suatu dokumen XML. Di sisi klien, cara yang paling mudah adalah dengan menggunakan EcmaScript.

Peta dengan XML

Jika melihat format XML yang berupa tag-tag dalam bentuk teks, akan sulit membayangkan membuat aplikasi SIG berdasarkan XML. Tapi XML bukanlah bahasa pemrograman, melainkan data yang diproses oleh User Agent (aplikasi di server, browser dll) dengan instruksi tertentu.

Jika kita sudah memiliki data GML (baik berupa file yang dihasilkan suatu aplikasi atau stream dari web), data tersebut harus diolah lebih lanjut agar dapat ditampilkan. Dalam GML dimungkinkan untuk merujuk pada suatu skema data sehingga pemrosesan GML dilakukan berdasarkan skema tersebut.
GML kemudian dapat ditransformasikan menggunakan XSL-XSLT, yang dapat dilakukan baik di server (misalnya Cocoon) atau secara lokal (misalnya menggunakan Saxon, atau parsing menggunakan clientside script). Di masa datang diharapkan XSL dapat dilaksanakan langsung di browser.

Setelah melalui proses transformasi, file GML akan menjadi SVG yang dapat dilihat menggunakan browser. (contoh file GML, XSL dan SVG dapat dilihat di bagian akhir). Saat ini, SVG di browser masih memerlukan plug-ins, karena SVG masih merupakan format yang baru, sehingga membutuhkan waktu bagi pembuat browser untuk mengadopsi-nya. Kecuali anda menggunakan browser khusus SVG seperti Amaya atau Batik.

Proses tersebut, mulai dari data, proses dan output semuanya berupa dokumen XML. Hal lainnya adalah proses ini dapat dilakukan menggunakan software-software opensource.

Sekilas muncul pertanyaan, mengapa tidak langsung menghasilkan SVG dari database atau aplikasi lainnya? Mengapa harus melalui GML?[18] Ilustrasi berikut mengenai Web Feature Server mungkin dapat membantu.

Konsep penggunaan XML dan pertukaran data

Penggunaan format XML (dalam hal ini GML) sangat penting karena berfungsi sebagai jembatan, terutama untuk penerapan Web Feature Server[14].
Dari binary ke teks

Sampai di sini mungkin masih ada yang mengganjal. Bagaimana mengubah data-data SIG yang sudah ada dan umumnya dalam bentuk binary ke XML? Hal ini masih harus dilakukan karena saat ini data-data SIG umumnya adalah dalam format proprietary (shapefile/dbf, mif/mid dll) yang berupa binary.

Beberapa cara yang dilakukan antara lain :

  • Dapat menggunakan bahasa pemrograman/script yang terdapat pada aplikasi SIG untuk mengambil data-data dan menghasilkan format XML (misalnya avenue pada ArcView 3.x, VB pada ArcGIS, atau mapBasic pada MapIfo).
  • Memasukkan data SIG dalam database, dan membuat file XML baik dengan fungsi yang ada pada database atau dengan bantuan aplikasi lain (PHP, perl, JSP, XSQL, XSL dll) [10].
  • Jika tidak memiliki software SIG, dapat membuat sendiri program yang membaca format binary, kemudian dieksport ke XML atau database. Ada juga aplikasi opensource maupun komersial yang dapat melakukan hal ini untuk beberapa format binary SIG [13].
  • Menggunakan aplikasi yang berjalan di server untuk membaca format binary dan langsung di-stream melalui web dalam bentuk GML.

Di masa datang hal ini akan lebih mudah, karena vendor applikasi SIG akan mengadopsi format XML atau turunannya baik untuk proses import atau export. Selain itu perkembangan teknologi GPS memungkinkan untuk langsung memproses data koordinat [11].

XML bukan hanya sekedar suatu format data, dan memang tidak didesain sebagai format penyimpanan semata. Data-data aplikasi SIG besar kemungkinan akan tetap menggunakan format proprietary, karena masing-masing vendor aplikasi SIG mempunyai pertimbangannya masing-masing (efisiensi, investasi yang ditanam dalam format tsb, proteksi dll). XML lebih berguna sebagai sarana pertukaran baik offline atau online.

Untuk database, perlu dipertimbangkan bahwa data XML bersifat hirarkis, sedangkan database relational. Selain itu database saat ini sudah ada yang memiliki kemampuan spasial. Jadi penyimpanan di database akan lebih memadai, dan struktur database-nya terserah kepada masing-masing pihak. Hasil query dapat disusun dan dikirim kepada klien dalam format XML tertentu yang sesuai [10].

Keuntungan penggunaan XML dalam SIG

Dengan segala kerepotan ini, keuntungan apa yang dapat diambil? Banyak sekali.

  • Format yang berupa standar terbuka.
  • Peta berbasiskan vektor dengan kualitas grafis yang baik.
  • Fasilitas DOM untuk modifikasi dokumen dan interaksi dengan pengguna.
  • Lebih hemat bandwith.
  • Extensible dengan berbagai teknologi di server (servlets, JSP, ASP, PHP, Pearl dll).
  • Konfigurasi sistem klien yang generik dan fleksibel.
  • Penerapan konsep pemisahan isi dari style, berarti memudahkan manajemen data.
  • Implementasi SIG yang tidak memerlukan biaya besar, lebih terjangkau oleh semua pihak.
  • Klien yang berdasarkan pada interface standar memungkinkan koneksi ke berbagai server, database, web service dll.
  • Memungkinkan adanya desentralisasi data geografis dengan pendekatan bottom up [6].
  • Data yang terdistribusi di berbagai tempat dapat diekstrak kemudian diintegrasikan secara mudah, selama tetap menggunakan format pertukaran standar.
  • Membuka peluang bagi terciptanya Sistem Informasi Kolaboratif [12].
  • Integrasi dengan non-GIS software, karena XML merambah ke semua bidang. Basis pengguna SIG bertambah luas.
  • Interaksi SIG dengan bidang lain secara lebih luas, dan penggunaan SIG untuk bidang yang selama ini belum terjamah SIG.

Beberapa keuntungan diatas memang dapat tercapai jika penggunaan XML telah diadopsi secara luas, yang diyakini hanya masalah waktu saja.

Hambatan

- Penggunaan XML belum mencapai tahap massal.
- SVG masih belum disupport secara native di beberapa browser, jadi saat ini masih memerlukan plugins.
Hal diatas memang wajar terjadi karena ada rentang waktu yang diperlukan dalam setiap pengadopsian teknologi baru.
- Masalah HAKI, tidak semua data disediakan untuk publik.
- Masalah organisasi dari institusi/badan/perusahaan untuk berkolaborasi bersama-sama.
- Kesenjangan teknologi informasi yang kita alami di Indonesia (istilah gagahnya adalah digital divide), baik di tingkat bawah, menengah dan atas.

Penutup

Seperti juga pada bidang lain, XML akan membawa SIG kepada penerapan standar terbuka yang memudahkan akses dan pertukaran data geografis. Hal ini memungkinkan terciptanya kerjasama yang lebih terintegrasi antara pihak-pihak yang langsung terkait dengan SIG, juga dengan pihak lain yang selama ini belum memanfaatkan dan dimanfaatkan untuk SIG.
Sisi lain adalah penerapan yang mudah dan murah akan bermanfaat terutama bagi yang memiliki sumberdaya terbatas. Bertambahnya pengguna SIG akan mendorong pengembangan SIG dari bawah, dengan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan self-survey SIG[17].

Pengelolaan Sistem Informasi Geografi (SIG)

Setelah Anda memahami pengertian SIG, sekarang Anda akan mempelajari pengelolaan SIG. Dalam pengelolaan SIG ini, yang akan dibahas meliputi, sumber informasi geografi, komponen-komponen SIG dan cara mengelola informasi geografi. Sekarang kita mulai dengan mempelajari sumber informasi geografi.

Sumber Informasi Geografi

Sumber informasi geografi selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu (bersifat dinamis), sejalan dengan perubahan gejala alam dan gejala sosial. Dalam geografi, informasi yang diperlukan harus memiliki ciri-ciri yang dimiliki ilmu lain, yaitu:
1. Merupakan pengetahuan (knowledge) hasil pengalaman.
2. Tersusun secara sistematis, artinya merupakan satu kesatuan yang tersusun secara berurut dan teratur.
3. Logis, artinya masuk akal dan menunjukkan sebab akibat.
4. Objektif, artinya berlaku umum dan mempunyai sasaran yang jelas dan teruji.

Selain memiliki ciri-ciri tersebut di atas, geografi juga harus menunjukkan ciri spasial (keruangan) dan regional (kewilayahan). Aspek spasial dan regional merupakan ciri khas geografi, yang membedakannya dengan ilmu-ilmu lain.

Karena geografi merupakan kajian ilmiah mengenai gejala alam dan sosial dari sudut pandang spasial dan regional, maka informasi geografi bersumber dari:

1. Gejala-gejala litosfer
Gejala-gejala ini meliputi relief dan topografi, jenis tanah dan batuan, serta sistem pelapisan batuan. Contoh informasi geografi yang berasal dari gejala litosfer lihat gambar di bawah ini.

Keterangan gambar 5.1.
Peta di atas berjudul: Persebaran tanah di Indonesia. Peta tersebut menggambarkan tentang persebaran jenis tanah di Indonesia berdasarkan proses terjadinya.Berdasarkan keterangan peta:
a. putih, tanah vulkanik yaitu tanah ini banyak dipengaruhi oleh vulkanik (letusan gunung api).
b. agak hitam, tanah non vulkanik yaitu tanah yang terbentuk pada zaman tertier (akibat pelapukan).
c. hitam, tanah rawa (aluvial) yaitu tanah yang terbentuk dari hasil sedimentasi (pengendapan), umumnya berada di kawasan pantai landai.
2. Gejala-gejala hidrosfer
Keterangan gambar 5.2.
Judul peta:
Daerah dangkalan Sunda dan dangkalan Sahul. Peta tersebut menggambarkan tentang daerah dangkalan di Indonesia yaitu dangkalan Sunda di sebelah Barat dan dangkalan Sahul di sebelah Timur. Dangkalan adalah laut yang kedalamannya kurang dari 200 meter, merupakan relief dasar laut yang menurun perlahan-lahan (landai) mulai dari pantai ke arah tengah lautan.

Berdasarkan keterangan peta:
3. Gejala-gejala atmosfer
Gejala ini berkaitan dengan informasi tentang cuaca dan iklim, termasuk unsur-unsurnya dan faktor yang mempengaruhinya. Contoh informasi geografi yang berasal dari gejala atmosfer, perhatikan gambar 5.3.

Keterangan gambar 5.3.
Peta di atas meng-gambarkan persebaran curah hujan berdasarkan besarnya curah hujan (dalam milimeter) dalam setahun untuk wilayah Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara. Untuk membedakan besar curah hujan, silahkan lihat keterangan peta.
4. Gejala-gejala biosfer
Gejala biosfer berkaitan dengan tumbuhan, hewan dan manusia, yang sangat dipengaruhi oleh unsur litosfer, hidrosfer dan atmosfer. Contoh informasi geografi yang berasal dari gejala biosfer adalah persebaran sumber daya alam hayati (hidup) Indonesia, (lihat gambar 5.4).

Keterangan gambar 5.4.
Berdasarkan judul, peta di atas menggambarkan tentang persebaran sumber daya alam hayati (hidup) di Indonesia. Dari peta ini kita dapat mengetahui daerah mana saja di Indonesia yang banyak menghasilkan ikan tuna, kelapa, pala dan lainnya.
5. Gejala-gejala sosial budaya
Gejala ini berkaitan dengan kehidupan masyarakat antara lain kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat. Contoh gejala sosial budaya yang merupakan sumber informasi geografi, yaitu persebaran obyek wisata kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

SIG DAN PEMULIHAN SISTEM KESEHATAN

Sistem informasi geografis dan pemulihan sistem kesehatan

aduh….. minggu kemarin benar-benar gak produktif. Males banget, mana badan lagi gak gitu sehat. Kemarin dapat pencerahan baru tentang Webgis dari mas Bayu dan mas Trias. Bayu mengatakan bahwa web di Puspics juga dikembangkan menggunakan perangkat open source. Sementara mas Trias mengatakan bahwa Mapserver sudah memiliki kemampuan akses database ke mysql.

Kini saatnya wilayah DIY-Jateng bangkit setelah menjadi berantakan akibat musibah gempa 27 Mei. Fase emergensi yang serba darurat dan miskin koordinasi berganti menjadi tahapan rekonstruksi untuk membangun kembali semua tatatan, termasuk sistem kesehatan. Sistem kesehatan merupakan urusan semua orang sama halnya kesehatan yang merupakan hak asasi semua pribadi. Sistem kesehatan bukan semata-mata mengenai masalah dokter, perawat, puskesmas, sampai ke imunisasi.

Membangkitkan sistem kesehatan pasca bencana secara umum bertujuan untuk memulihkan dan memperbaiki sistem yang menjamin kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dicapai jika pemerintah memiliki sistem keuangan untuk menjamin akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan tanpa kecuali serta melindungi warga melalui deteksi dini serta pengendalian faktor risiko dan penyebab penyakit. Selain itu juga dilengkapi dengan petugas kesehatan dengan etos kerja yang baik dan berada di fasilitas kesehatan dengan lingkungan yang mendukung, didukung oleh warga yang memiliki perilaku hidup sehat serta dinas maupun infrastruktur masyarakat (NGO, jaringan non formal) lainnya yang kooperatif. Sistem kesehatan yang baik juga harus disertai dengan infrastruktur dan mekanisme untuk memantau kinerja serta mengevaluasi keefektifan sistem itu sendiri.

Informasi dan kerjasama
Jika ingin cepat bangkit, upaya rekonstruksi kesehatan bergantung kepada informasi yang akurat serta koordinasi yang baik antar sektor.

Berbagai pihak telah terlibat dalam kegiatan tersebut mulai dari teknik sipil, ilmu kesehatan masyarakat, kedokteran, geografi, geodesi, geologi, teknologi informasi, farmasi, keperawatan dan lain sebagainya. Saat ini, pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat mengintegrasikan semuanya? Pada fase emergensi kemarin, sebagian besar informasi mengalir secara cepat, tidak terstruktur dalam bentuk teksual, naratif maupun grafis. Pada fase rekonstruksi, kita memerlukan olahan data yang lebih terstruktur, informatif, mendalam, baik berupa grafik, peta maupun bentuk analisis lainnya. Sehingga, dalam bentuk aplikasi seperti apa, dinas kesehatan (tingkat kabupaten maupun propinsi) dapat memantau, misalnya, kemajuan rekonstruksi puskesmas secara mudah? Bagaimana pula dinas kesehatan tetap dapat mempertahankan cakupan imunisasi? Selain itu, apakah ibu hamil yang berisiko tinggi tetap dapat terpantau agar angka kematian ibu dan bayi tidak tetap terkendali?

Sistem informasi geografis
Dengan dukungan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, salah satu tool potensial untuk mengintegrasikan adalah sistem informasi geografis (SIG). Sistem informasi geografis merupakan seperangkat tatanan dan prosedur yang meliputi perangkat lunak, perangkat keras untuk mengolah data/informasi dalam konteks spasial (keruangan) untuk mendukung pengambilan keputusan. Meskipun bukan hal baru (seorang John Snow telah menggunakannya untuk memetakan penyakit kolera di London pada abad 19), akan tetapi dengan kekayaan data dan informasi, serta kecanggihan metode analisis, perangkat ini dapat memberikan nuansa baru dalam mendukung, mengawasi, serta meningkatkan proses kebangkitan sistem kesehatan pasca bencana. Model aplikasi berbasis web tidak lagi menjadi aplikasi stand-alone yang terisolir dan merepotkan untuk diupdate.

Dengan adanya Internet, aplikasi SIG dapat menggabungkan berbagai jenis media grafis. Berbagai gambar foto kerusakan puskesmas dapat di-link-kan ke dalam aplikasi tersebut. Peta satelit maupun foto udara Jogja pun dapat dikombinasikan, disamping koordinat geografis lokasi fasilitas kesehatan dan kamp pengungsi. Gambaran morbiditas penyakit dalam bentuk peta tematik pun dapat lebih memudahkan bagi para pengambil keputusan (baca: dinas kesehatan kabupaten/propinsi maupun pimpinan puskesmas) dalam menganalisis situasi epidemiologis di wilayah mereka.

Hanya saja, dengan tersedianya berbagai perangkat SIG berbasis web, baik yang komersial maupun gratis, diperlukan kecermatan dan kearifan untuk memilih yang terbaik. Pilihan yang terbaik tidak saja dinilai dari aspek user friendlinessnya, kecepatan akses, serta kemudahan mengupdatenya tetapi juga dengan mempertimbangkan aspek ketersediaan fasilitas teknologi informasi di fasilitas kesehatan serta kemampuan penggunanya. SIG berbasis web tersebut pun juga harus menyesuaikan dengan mekanisme pengumpulan data kesehatan rutin. Sebagai salah satu daerah yang mendapatkan penghargaan karena inovasi e-governmentnya, pemerintah DIY diharapkan sudah siap dengan berbagai infrastrukturnya.

Skenario terbaik
Jika pada fase emergensi kemarin masyarakat dapat mengirim SMS ke nomer tertentu yang kemudian langsung mempublikasikan di web mengenai wilayah yang membutuhkan makanan dan tenda, maka model yang sama pun dapat diterapkan untuk SIG pemantauan rekonstruksi puskemas. Masyarakat dapat mengambil foto puskesmas, mengirim ke web, langsung ter-link dengan lokasi puskesmas yang rusak untuk menunjukkan kemajuan/perkembangan proses rekonstruksi. Pengiriman komentar melalui SMS pun demikian juga. Dinkes DIY juga sudah berpengalaman mengenai aplikasi ini. Pengakses web (khususnya dari organisasi yang memberikan sumbangan rekonstruksi) dapat mencari dengan mudah lokasi puskesmas yang rusak serta melihat gambaran perkembangan proses rekonstruksi. Ini merupakan bagian dari akuntabilitas sistem kesehatan terhadap mereka yang peduli kepada kita.

Jika bersiap lebih maju lagi, maka sudah saatnya puskesmas dan rumah sakit dilengkapi dengan fasilitas pencatatan rekam medis yang terkait dengan SIG. Sehingga, hanya dengan menyebutkan dusun (atau desa atau kode pos), maka peta morbiditas penyakit akan terupdate secara otomatis. Pendekatan ini diharapkan dapat memperbaiki mekanisme manual dalam pemantauan wilayah setempat. Tentu saja, secara hipotetis, akan mempermudah kerja bidan ataupun perawat pemantauan faktor risiko di wilayah tersebut.

Disamping jenis aplikasi, data mengenai kerusakan fasilitas puskesmas pun bisa menjadi bahan kajian spasial. Salah satu contohnya adalah determinan kerusakan fasilitas kesehatan. Data damage assessment bangunan yang telah terkumpul dapat memberikan kontribusi penting bagi ilmu pengetahuan. Pendekatan SIG tentang variabel jarak dari fasilitas kesehatan yang rusak terhadap episentrum serta struktur bangunannya belum memberikan kesimpulan yang seragam. Adanya integrasi serta mekanisme sharing data semoga akan menghasilkan banyak lesson learnt yang dijadikan pelajaran agar bangsa kita semakin tangguh(resilience) menghadapi bencana.

Trend Sistem Informasi

Posted On September 23, 2007

Filed under tugas

Comments Dropped leave a response

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI (GEOGRAFIS) UNTUK MENGEMBANGKAN POTENSI DAERAH JAWA TIMUR : STUDI KASUS TANAMAN PERTANIAN

ITS Digital Library / 2006-12-20
Oleh : KOESDIJATI, TITIK
Dibuat : 2006-12-20, dengan file

Keyword : Computer graphics
Sumber pengambilan dokumen : Theses Industrial Engineering RT 006.6 Koe p, 2001
Cakupan : ITS Community
Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan, memproses (mengedit/memanipulasi) dan menampilkan data pada database yang berisi data grafis (peta tematik) dan data alfanumerik (tabulasi). Data grafis merupakan data kasar (raw data), yaitu peta garis Propinsi Jawa Timur. Sedangkan data alfanumerik (atribut) merupakan data statistik yaitu berupa luas lahan dan jumlah produksi dari 34 komoditi, ketinggian dataran, curah hujan dan temperatur rata-rata untuk masing-masing Kabupaten/Kotamadya di Jawa Timur. Data tersebut kemudian diubah dalam format digital (soft copy) dan disimpan dalam database pada sistem komputer. Pada database, data grafis dan data alfanumerik dilakukan proses dengan editing atau manipulasi, kemudian dilakukan analisa keruangan secara komprehensif dan terintegrasi artinya dapat dibandingkan secara menyatu dalam satu sistem yang sama sehingga akan memudahkan dalam melakukan analisa. Dari analisa tersebut dapat dihasilkan analisa yang subtansial yang dapat digunakan sebagai sumber informasi atau bank data. Untuk lebih memudahkan dalam analisa kualitatif dibuat 5 (lima) klasifikasi berdasarkan hasil tampilan pada data grafis (peta) yaitu kurang sekali, kurang, sedang, banyak dan banyak sekali. Selain itu juga digunakan grafik yang menunjukkan trend atau kecenderungan pengembangan komoditi dengan didasarkan data temporal (dari tahun ke tahun) sehingga dengan data ini diharapkan dapat dipilih komoditi unggulan atau yang diandalkan dikemudian hari oleh Kabupaten/Kotamadya tersebut.

Deskripsi Alternatif :

Sistem Informasi Geografis adalah suatu sistem yang mempunyai kemampuan untuk menyimpan, memproses (mengedit/memanipulasi) dan menampilkan data pada database yang berisi data grafis (peta tematik) dan data alfanumerik (tabulasi). Data grafis merupakan data kasar (raw data), yaitu peta garis Propinsi Jawa Timur. Sedangkan data alfanumerik (atribut) merupakan data statistik yaitu berupa luas lahan dan jumlah produksi dari 34 komoditi, ketinggian dataran, curah hujan dan temperatur rata-rata untuk masing-masing Kabupaten/Kotamadya di Jawa Timur. Data tersebut kemudian diubah dalam format digital (soft copy) dan disimpan dalam database pada sistem komputer. Pada database, data grafis dan data alfanumerik dilakukan proses dengan editing atau manipulasi, kemudian dilakukan analisa keruangan secara komprehensif dan terintegrasi artinya dapat dibandingkan secara menyatu dalam satu sistem yang sama sehingga akan memudahkan dalam melakukan analisa. Dari analisa tersebut dapat dihasilkan analisa yang subtansial yang dapat digunakan sebagai sumber informasi atau bank data. Untuk lebih memudahkan dalam analisa kualitatif dibuat 5 (lima) klasifikasi berdasarkan hasil tampilan pada data grafis (peta) yaitu kurang sekali, kurang, sedang, banyak dan banyak sekali. Selain itu juga digunakan grafik yang menunjukkan trend atau kecenderungan pengembangan komoditi dengan didasarkan data temporal (dari tahun ke tahun) sehingga dengan data ini diharapkan dapat dipilih komoditi unggulan atau yang diandalkan dikemudian hari oleh Kabupaten/Kotamadya tersebut.
Copyrights : Copyright @2005 by ITS Library. This publication is protected by copyright and permission should be obtained from the ITS Library prior to any prohibited reproduction, storage in a retrievel system, or transmission in any form or by any means, electronic, mechanical, photocopying, recording, or likewise. For information regarding permission(s), write to ITS Library

« Implementasi Teknologi Biometric Untuk Sistem Absensi Perkantoran

Analisis dan Perancangan Prototipe Aplikasi E-Commerce »

<!–

Posted on Tuesday, April 2nd, 2002 at 10:13 am. About Jurnal, IT.

–>

Perancangan Sistem Informasi Penentuan Angka Kredit Jabatan Fungsional Peneliti

Perancangan Sistem Informasi Penentuan Angka Kredit Jabatan Fungsional Peneliti

Engkos Koswara Natakusumah

Abstact
Aim of the research is to design information system for Penetapan Angka Kredit (PAK) of functional researcher grade based on computerised system. This system produces a report of PAK, and has facilities for data entry and searching, so that, it produces information: accuracy, timelines, and relevancy. This research uses paradigm of system development life cycle, which covers the activities of gathering data through observation, interview, and literature study; system analysis uses flow map; system design uses context diagram, data flow diagram, data dictionary, entity relationship diagram, file relationship, file structure, program structure, input design, output design and menu structure.


Abstrak

Tujuan penelitian adalah merancang sistem informasi Penetapan Angka Kredit (PAK) untuk jabatan peneliti yang berbasis komputer; sehingga dapat memudahkan dalam membuat laporan penentuan angka kredit, memudahkan pemasukan dan pencarian data sehingga dapat menghasilkan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan. Penelitian menggunakan paradigma siklus hidup pengembangan sistem, meliputi tahapan pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan studi pustaka; analisis sistem dengan aliran dokumen; perancangan sistem menggunakan diagram konteks, diagram aliran data, kamus data, diagram relasi entitas, relasi antar file, struktur file, struktur program, sancangan masukan, rancangan luaran, dan struktur menu.

1. Pendahuluan
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematik untuk menemukan informasi ilmiah dan atau teknologi yang baru, membuktikan kebenaran atau ketidak benaran hipotesa sehingga dapat dirumuskan teori dan atau proses gejala alam dan atau sosial. Hasil penelitian kemudian di publikasi untuk mendapatkan atau meningkatkan jabatan peneliti. Jabatan peneliti adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang pejabat peneliti dalam suatu satuan organisasi penelitian dan pengembangan. Pejabat peneliti adalah Pegawai Negeri Sipil yang setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, diangkat oleh pejabat yang berwenang dalam suatu tingkat jabatan peneliti dan dipekerjakan pada suatu satuan organisasi penelitian dan pengembangan dengan tugas pokok melakukan penelitian dan pengembangan. Pengembangan adalah kegiatan tindak lanjut penelitian untuk mendapatkan informasi tentang cara mempergunakan teori, dan atau proses, untuk tujuan praktis (1). Hasil penelitian dan pengembangan yang akan di hitung angka kredit penelitinya harus disampaikan ke P2JP, P2JP mengolah Penetapan angka kredit bagi para peneliti di Indonesia. Penentuan PAK dilakukan melalui beberapa proses yang dapat dilihat pada Gambar 1.
Penelitian bertujuan untuk merancang sistem informasi Penetapan Angka Kredit (PAK) untuk Jabatan Peneliti berbasis komputer; sehingga dapat memudahkan dalam membuat laporan penentuan angka kredit, memudahkan pemasukan dan pencarian data sehingga dapat menghasilkan informasi yang akurat, tepat waktu dan relevan. Penelitian menggunakan paradigma System Development Life Cycle (2), meliputi tahapan pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan studi pustaka; Analisis sistem dengan flow map; perancangan sistem dengan menggunakan diagram konteks, DFD, kamus data, ERD, relasi antar file, struktur file, struktur program, rancangan masukan, rancangan luaran, dan struktur menu.

2. Pengumpulan Data dan Analisis Sistem
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan petugas di P2JP LIPI. Selain itu dilakukan juga studi literatur yang berhubungan dengan jabatan peneliti, seperti pengertian jabatan peneliti, perolehan jabatan peneliti, jenjang peneliti, perhitungan angka kredit, unsur yang dinilai, tata cara pengajuan angka kredit, tata cara penilaian, dll.
Analisis sistem ditujukan untuk menganalisis sistem yang sedang berjalan, sehingga dapat dipahami keadaan sistem yang ada, analisis ini biasanya menggunakan diagram alir dokumen. Aliran dokumen dari satu bagian ke bagian lain dapat terlihat dengan jelas, begitu juga adanya penyimpan data, yang dilakukan secara manual. Analisis dilakukan juga pada proses Penetapan Angka Kredit Jabatan Penelitian yang biasa dilakukan. Hasil analisis ini kemudian digunakan untuk merancang sistem informasi yang diperlukan.

Pengertian Jabatan Peneliti di jelaskan dalam Surat Edaran Bersama Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara dan Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Nomor 15/SE/1982 dan Nomor 704/KEP/J.10/1982 tanggal 27 Oktober 1982 (1). Urutan jabatan peneliti adalah sebagai berikut: Asisten Peneliti Muda, Asisten Peneliti Madya, Ajun Peneliti Muda, Ajun Peneliti Madya, Peneliti Muda, Peneliti Madya, Ahli Peneliti Muda, Ahli Peneliti Madya, dan Ahli Peneliti Utama.
Jenjang Pangkat Jabatan Peneliti adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Jenjang Pangkat Peneliti

Jabatan Peneliti Pangkat dan Golongan Ruang
Asisten Peneliti Muda Penata Muda, Golongan Ruang III/a
Asisten Peneliti Madya Penata Muda Tingkat I, Golongan Ruang III/b
Ajun Peneliti Muda Penata, Golongan Ruang III/c
Ajun Peneliti Madya Penata Tingkat I, Golongan Ruang III/d
Peneliti Muda Pembina, Golongan Ruang IV/a
Peneliti Madya Pembina Tingkat I, Golongan Ruang IV/b
Ahli Peneliti Muda Pembina Utama Muda, Golongan Ruang IV/c
Ahli Peneliti Madya Pembina Utama Madya, Golongan Ruang IV/d
Ahli Peneliti Utama Pembina Utama, Golongan Ruang IV/e

Untuk dapat diangkat dalam jabatan peneliti, seorang Pegawai Negeri Sipil harus memenuhi angka kredit yang ditentukan dan mempunyai tugas pokok melakukan penelitian dan pengembangan dan bekerja pada satuan organisasi penelitian dan pengembangan. Jumlah angka kredit kumulatif minimal yang harus dipenuhi oleh seorang Pegawai Negeri Sipil untuk dapat diangkat menjadi pejabat peneliti adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Penertiban Aparatur Negara Nomor 01/MENPAN/1983, yaitu:

(1) Asisten Peneliti Muda = 100 angka kredit
(2) Asisten Peneliti Madya = 150 angka kredit
(3) Ajun Peneliti Muda = 200 angka kredit
(4) Ajun Peneliti Madya = 300 angka kredit
(5) Peneliti Muda = 400 angka kredit
(6) Peneliti Madya = 550 angka kredit
(7) Ahli Peneliti Muda = 700 angka kredit
(8) Ahli Peneliti Madya = 850 angka kredit
(9) Ahli Peneliti Utama = 1000 angka kredit

Jumlah angka kredit tersebut di atas, harus terdiri dari:
(1) Sekurang-kurangnya 70% (tujuh puluh persen) berasal dari unsur-unsur utama, karya tulis ilmiah, dan atau pemacuan teknologi (lihat Tabel 2).
(2) Sebanyak-banyaknya 30% (tiga puluh persen berasal dari unsur-unsur penunjang, yaitu pemasyarakatan ilmu dan teknologi, keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah, pembinaan kader ilmiah, dan atau penghargaan ilmiah
(3) Angka kredit dari unsur kriteria karya tulis ilmiah yang diterbitkan sekurang-kurangnya harus sama dengan jumlah angka kredit dari unsur kriteria karya tulis ilmiah yang belum dan atau tidak diterbitkan.
(4) Untuk dapat diangkat sebagai Ahli Peneliti seorang Pegawai Negeri Sipil wajib memiliki angka kredit dari unsur kriteria karya tulis ilmiah hasil penelitian yang diterbitkandan atau disajikan dalam pertemuan ilmiah dan atau dalam pemacuan teknologi sekurang-kurangnya sebesar 30%(tiga puluh persen) yang di tulis /dibuatnya sendiri atau bersama dengan pejabat peneliti lain, dengan ketentuan ia sebagai penulis/pembuat utamanya.
(5) Apabila suatu karya tulis ilmiah atau pemacuan teknologi atau pemasyarakatan ilmu dan teknologi atau keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah ditulis oleh lebih dari seorang, maka pembagian angka kreditnya ditetapkan 60%(enam puluh persen) bagi penulis utama dan 40% (empat puluh persen) bagi semua penulis pembantu.
(6) Apabila kriteria yang dipergunakan dalam penilaian berubah maka yang diperhitungkan hanya selisih angka kreditnya.
(7) Angka kredit dari unsur kriteria pendidikan bergelar hanya diperhitungkan satu kali dan yang dinilai ialah pendidikan tertinggi.
(8) Apabila Pegawai Negeri Sipil memperoleh pendidikan yang lebih tinggi setelah ia diangkat dalam jabatan peneliti, maka yang diperhitungkan hanyalah selisih angka kredit antara pendidikan yang diperoleh sebelumnya dengan pendidikan yang lebih tinggi itu (1).
Untuk membantu analisis sistem yang berjalan maka dibuat flow map atau bagan alir dokumen, seperti telihat pada Gambar 1.

Tabel 2. Angka kredit yang harus dipenuhi oleh pejabat peneliti

NO

Jabatan dan Pangkat

Jenjang Jabatan/Jenjang Golongan/Angka Kredit

Kriteria

AsistenPeneliti

Ajun Peneliti

Peneliti

Ahli Peneliti

 

Unsur-Unsur

Prosentase

MudaIII/a

MadyaIII/b

MudaIII/c

MadyaIII/d

MudaIV/e

MadyaIV/b

MudaIV/c

MadyaIV/d

UtamaIV/e

ABC

Pendidikan
Karya Tulis Ilmiah
Pemacuan Teknologi
≥ 70%

70

105

140

210

280

385

490

595

700

DEF

G

Pemasyarakatan Ilmu
Keikutsertaan Dalam kegiatanilmiah
PembinaanKaderIlmiah
Penghargaan
≤ 30%

30

45

60

90

120

165

210

255

300

  Jumlah  

100

150

200

300

400

550

700

850

1000

Flow Map Sistem P2JP yang sedang berjalan

Gambar 1 Flow Map Sistem P2JP yang sedang berjalan

Keterangan:
1 = dokumen usulan dari Instansi peneliti
2 = pembuatan disposisi ketua LIPI
3 = dokumen yang sudah di disposisi oleh Ketua LIPI
4 = pembuatan disposisi kepala P2JP
5 = dokumen yang sudah di disposisi oleh kepala P2JP
6 = pembuatan disposisi kepala Biro Organisasi dan Pengawasan
7 = dokumen yang sudah di disposisi oleh kepala BOP
8 = pembuatan disposisi kepala bagian jabatan fungsional
9 = dokumen yang sudah di disposisi oleh kepala bagian jabatan fungsional
10 = mengecek kelengkapan berkas
11 = berkas yang lengkap, yang tidak lengkap dikembalikan ke Instansi pengusul
12 = membuat kelengkapan untuk pengiriman berkas
13 = berkas dan dokumen yang lengkap
14 = penilaian berkas dan dokumen
15 = hasil penilaian
16 = pembuatan disposisi hasil penilaian
17 = dokumen hasil penilaian
18 = persiapan sidang
19 = dokumen kelengkapan sidang
20 = sidang P2JP
21 = hasil sidang P2JP dan berupa format PAK
22 = pengesahan PAK oleh Ketua LIPI
23 = PAK yang sudah disahkan oleh Ketua LIPI
24 = pembuatan surat pengantar PAK
25 = surat pengantar lengkat dengan PAK
26 = surat pengantar dari BOP lengkap dengan PAK
27 = surat pengantar dari BOP lengkap dengan PAK
28 = arsip surat pengatar dan PAK

3. Perancangan Sistem Informasi

Berdasarkan hasil analisis sistem kemudian dibuat rancangan sistemnya, meliputi: Diagram Konteks, Data Flow Diagram, Entity Relantionship Diagram (ERD), Relasi antar File, Struktur File, Struktur Program, Struktur Menu, Format Masukan dan Format Luaran.
Diagram konteks menggambarkan suatu sistem informasi secara global, termasuk aliran data dari masukan (input) ke proses kegiatan (sistem), dari proses ke proses, dan dari proses ke luaran (output) menjadi sebuah informasi yang terpadu.
Data Flow Diagram merupakan alat pemodelan dari proses analisis kebutuhan perangkat lunak. Dalam DFD dibahas fungsi-fungsi apa saja yang diperlukan oleh suatu sistem dan aliran data yang terdapat diantara proses di dalamnya. DFD berguna sebagai alat untuk memverifikasikan apakah sistem yang akan dibangun sudah memenuhi kriteria yang diinginkan oleh user atau belum. Data flow diagram dapat dikembangkan dari level yang paling rendah ke level yang lebih tinggi. DFD level 0 merupakan pengembangan dari diagram konteks, DFD level 1 merupakan pengembangan dari DFD level 0. Tiap proses dari DFD dapat dikembangkan lagi menjadi lebih detail sampai proses-proses tersebut tidak dapat dikembangkan lagi. Adapun Data Flow Diagram yang dari Sistem Pemrosesan Angka Kredit (PAK) bagi jabatan peneliti dapat dilihat pada Gambar 2 (DFD Level 0), Gambar 3 (DFD level 1 poses 1) , dan Gambar 4 (DFD level 1 proses 2).

Data Flow Diagram Level   0

Gambar 2. Data Flow Diagram Level
Keterangan : A = Biodata Peneliti; B = Data Penelitian; C = Data Jabatan;
D = Data Golongan; E = Data AKJP; F = Laporan

Data Flow Diagram Level 1 Proses 1
Gambar 3. Data Flow Diagram Level 1 Proses 1

Data Flow Diagram Level 1 Proses 2
Gambar 4. Data Flow Diagram Level 1 Proses 2

Kamus Data meliputi:
a) Biodata peneliti : Nip, Nama, J_kelamin, Alamat, kota, kode pos, Telp, Agama, Tanggal Pak, Pendidikan.
b) Data Penelitian : Nip, kode penelitian
c) Data Jabatan : Nip, Angka kredit unsur utama, Angka kredit unsur penunjang, Angka kredit karya tulis ilmiah atau Angka kredit pemacuan teknologi.
d) Data Golongan : Kode golongan, Pangkat, Jabatan.
e) Data AKJP : Kode AKJP, Unsur, Sub unsur, Butir, Angka kredit (Unsur = Pendidikan, Karya tulis ilmiah, Pemacuan teknologi, Pemasyarakatan ilmu dan teknologi, Keikut sertaan dalam kegiatan ilmiah, Pembinaan kader ilmiah, Penghargaan ilmiah).
f) Pembuatan laporan: Laporan peneliti (nip, jenis kelamin, agama, pendidikan, semua data), Laporan perolehan angka kredit (nip, semua data), Laporan perolehan jabatan (nip, golongan, semua data).

Relasi antar file/data base merupakan hubungan yang terjadi antara satu file dengan file yang lain, yang dihubungan dengan suatu kata kunci (key). Hubungan antar file dari Sistem Pemrosesan Angka Kredit bagi Jabatan Peneliti dapat dilihat pada gambar 5

Relasi antar file
Gambar 5. Relasi antar file

Rancangan masukan merupakan tampilan data yang dirancang untuk menerima masukan data dari user sebagai petugas data entry. Rancangan masukan ini harus dapat memberikan kejelasan bagi pemakai, baik dari bentuknya maupun dari masukan-masukan data yang akan diinput. Adapun rancangan masukan dalam Sistem Penetapan Angka Kredit ini ada 2 yaitu rancangan masukan Bio-data dan rancangan masukan perolehan angka kredit. Rancangan masukan bio-data dapat dilihat pada gambar 6 dan rancangan masukan angka kredit jabatan peneliti dapat dilihat pada gambar 7.

a. Rancangan masukan Biodata

Rancangan masukan Bio-data Pejabat Peneliti
Gambar 6. Rancangan masukan Bio-data Pejabat Peneliti

b. Rancangan masukan Perolehan Angka Kredit

Rancangan masukan perolehan angka kredit pejabat peneliti
Gambar 7. Rancangan masukan perolehan angka kredit pejabat peneliti

Selain rancangan masukan, diperlukan juga rancangan keluaran yang akan ditampilkan ke printer atau ke layar komputer. Rancangan keluaran harus dibuat dan didesain dengan baik sesuai kebutuhan pemakai. Contoh rancangan keluaran dapat dilihat pada gambar 8 dan gambar 9

Rancangan keluaran Bio-data peneliti berdasarkan NIP
Gambar 8. Rancangan keluaran Bio-data peneliti berdasarkan NIP

Rancanagan keluaran Perolehan Angka Kredit jabatan peneliti berdasarkan NIP

Gambar 9 Rancanagan keluaran Perolehan Angka Kredit jabatan peneliti berdasarkan NIP

Kemudahan penggunaan program merupakan salah satu aspek dalam perancangan. Gunanya agar user dengan mudah dapat menjalankannya, kemudahan ini dapat dibantu dengan user interface. User interface dirancang dengan mengelompokkan fungsi-fungsi yang sejenis dalam satu sub-menu pulldown. Struktur menu dari Sistem Pemrosesan Angka Kredit Jabatan Peneliti dapat dilihat pada gambar 10
Struktur Menu
Gambar 10 Struktur Menu


4. Penutup

Hasil observasi terhadap sistem pemrosesan angka kredit bagi jabatan peneliti, dapat disimpulkan bahwa perlu adanya sistem yang berbasis komputer, sehingga pemasukan, pengolahan, penyimpanan, dan pencarian data dapat dilakukan dengan cepat, termasuk pembuatan laporan.
Untuk merealisasikan adanya sistem berbasis komputer, perlu dibuat diagram alir dokumen, sehingga dapat diketahui entitas yang terlibat; diagram konteks sistem untuk mengetahui hubungan antar entitas sumber, proses, dan entitas tujuan, hal ini memudahkan dalam melihat sistem yang akan dirancang secara global; diagram aliran data untuk mengetahui data yang mengalir dari entitas awal ke proses, data dari proses ke entitas tujuan, data dari proses ke proses, dan data dari proses ke file, begitu juga sebaliknya; diagram relasi entitas untuk mengetahui relasi antar file, termasuk kardinalitasnya apakah satu ke satu, satu ke banyak atau banyak ke banyak; struktur file; struktur menu dan struktur program, semuanya ini dilakukan dengan maksud untuk memudahkan dalam tahap implementasi.

 Konsep Sistem Informasi Manajemen
Sistem informasi manajemen (SIM) bukan sistem informasi keseluruhan, karena tidak semua informasi di dalam organisasi dapat dimasukkan secara lengkap ke dalam sebuah sistem yang otomatis. Aspek utama dari sistem informasi akan selalu ada di luar sistem komputer.Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer organisasi. Banyak organisasi yang gagal membangun SIM karena :Kurang organisasi yang wajarKurangnya perencanaan yang memadaiKurang personil yang handalKurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan memberikan keuntungan dan uang.Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer. Prinsip utama perancangan SIM : SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama.Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model matematika.A.DEFINISI SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.Perancangan, penerapan dan pengoperasian SIM adalah mahal dan sulit. Upaya ini dan biaya yang diperlukan harus ditimbang-timbang. Ada beberapa faktor yang membuat SIM menjadi semakin diperlukan, antara lain bahwa manajer harus berhadapan dengan lingkungan bisnis yang semakin rumit. Salah satu alasan dari kerumitan ini adalah semakin meningkatnya dengan muncunya peraturan dari pemerintah.Lingkungan bisnis bukan hanya rumit tetapi juga dinamis. Oleh sebab itu manajer harus membuat keputusan dengan cepat terutama dengan munculnya masalah manajemen dengan munculnya pemecahan yang memadai.B.UNSUR-UNSUR SISTEM INFORMASI SEDERHANASemua sistem informasi mempunyai tiga kegiatan utama, yaitu menerima data sebagai masukan (input), kemudian memprosesnya dengan melakukan penghitungan, penggabungan unsur data, pemutakhiran dan lain-lain, akhirnya memperoleh informasi sebagai keluarannya (output).DATA : fakta-fakta atau sesuatu yang dianggap (belum mempunyai arti)INFORMASI : data yang telah diproses atau data yang memiliki arti.Perubahan data menjadi informasi dilakukan oleh pengolah informasi. Pengolah informasi dapat meliputi elemen-elemen komputer, non-komputer atau kombinasi keduanya.C.SISTEM INFORMASI UNTUK MANAJERInformasi yang diberikan kepada manajer digunakan untuk mengendalikan operasi, strategi, perencanaan jangka panjang & pendek, pengendalian manajemen dan pemecahan masalah khusus.Dalam sistem yang dikomputerisasikan, program secara terus-menerus memantau transaksi pemasukan yang diproses atau yang baru di proses guna pengindetifikasian dan secara otomatis melaporkan lingkungan perkecualian yang memperoleh perhatian manajemen.Semakin tinggi lapisan manajemen akan semakin cenderung menggunakan informasi yang berasal dari luar untuk tujuan pengendalian manajemen. Perbandingan kinerja organisasi dengan statistika ringkasan dari pesaing atau industri rata-rata jelas sangat penting artinya.D. SISTEM INFORMASI INTELIJENSistem informasi intelijen secara otomatis bertugas mencari dan menganalisis informasi tentang lingkungan sosial, politik, hukum, peraturan perundangan dan ekonomi dari satu atau lebih negara disamping juga tentang kesehatan dan prospek masa depan industri dimana perusahaan bersangkutan merupakan bagian didalamnya serta juga tentang pesaingnya.Sistem informasi intelijen akan memberikan informasi perencanaan yang para manajer tidak menerima dari sumber lain.Sumber informasi intelijen :Lembaga pemerintah.Asosiasi perdagangan industriPerusahaan riset pasar swastaMedia massaKajian khusus yang dilakukan organisasiInformasi yang diperoleh akan digunakan untuk memahami strategi pesaing, pergeseran halus dalam selera konsumen.Unsur pokok dalam informasi intelijen :Profil keperluan informasi dari manajerSistem penggalian informasi manajemenSistem pengkodean dan penyimpanan.Sistem analisis dataKajian khususSistem pelaporanPedoman penghapusan data.Sistem intelijen dapat memberikan banyak keuntungan bagi suatu perusahaan atau lembaga. Sekarang ini tidak hanya perusahaan besar yang memiliki sistem intelijen banyak perusahaan kecil yang juga mempunyai.E.INTEGRASI SISTEM INFORMASIIntegrasi : adanya saling keterkaitan antar sub sistem sehingga data dari satu sistem secara rutin dapat melintas, menuju atau diambil oleh satu atau lebih sistem yang lain.Pengintegrasian sistem informasi merupakan salah satu konsep kunci dari SIM. Berbagai sistem dapat saling berhubungan satu sama lain dengan berbagai cara yang sesuai keperluannya.Integrasi sistem informasi dapat bersifat hirarkis yaitu pada tingkat transaksi akan memberikan masukan data kepada sistem tingkat manajerial atau sering pula dalam arah sebaliknya. Interaksi hirarkis adalah paling banyak diidentifikasikan dan diitegrasikan karena manajer mengetahui bahwa informasi harus diringkaskan menurut jalur hirarki disamping sistem yang bersangkutan ada di bawah satu garis komando dan karena manajer dalam bidang fungsional akan lebih banyak mengetahui data apa yang ada dalam sistemnya.Keuntungan dari integrasi :Membaiknya arus informasi di dalam sebuah organisasi.Mendorong manajer untuk membagikan informasi yang dihasilkan oleh departemennya agar secara rutin mengalir ke sistem yang lain yang memerlukan.F.EVOLUSI SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTERA. Fokus awal pada dataSelama paruh pertama abad 20, perusahaan pada umumnya mengabaikan kebutuha n informasi para manajer. Pada fase ini penggunaan komputer hanya terbatas pada aplikasi akuntansi.Nama aplikasi akuntasnsi berbasis komputer pada awalnya adalah pengolahan data elektronik (EDP) kemudian berubah menjadi Data prosesing (DP) dan Sistem Informasi Akuntansi (SIA) .B. Fokus baru pada informasiTahun 1964 diperkenalkan satu generasi baru alat penghitung yang mempengaruhi cara penggunaan komputer. Konsep penggunaan komputer sebagai SIM dipromosikan oleh pembuat komputer untuk mendukung peralatan baru tsb. Konsep SIM menyadari bahwa aplikasi komputer harus diterapkan untuk tujuan utama menghasilkan informasi manajemen. Konsep ini segera diterima oleh perusahaan besar.C. Fokus revisi pada pendukung keputusan.Sistem pendukung keputusan (Decision support system)= sistem penghasil informasi yang ditujukan pada suatu masalah tertentu yang harus dipecahkan oleh manajer dan keputusan yang harus dibuat manajer.Manajer tsb. Berada di bagian manapun dalam organisasi pada tingkat manapun dan dalam area bisnis apapun. DSS dimaksudkan untuk mendukung kerja satu manajer secara khusus.Spesifikasi DSS :Berfokus pada proses keputusan daripada proses transaksiDirancang dengan mudah, sederhana, dapat diterapkan dengan cepat dan mudah diubah.Dirancang dan dioperasikan oleh manajerMampu memberikan informasi yang berguna bagi analisis kegiatan manajerial.Berkaitan dengan hanya bagian kecil dari masalah besarMemiliki logika yang serupa dengan cara manajer menganilis situasi yang sama.Memiliki basis data berisi informasi yang disarikan dari file dan informasi lain organisasi yang berasal dari lingkungan eksternal.Memungkinkan manajer untuk menguji hasil yang mungkin dari serangkaian alternatif.D. Fokus pada KomunikasiPada waktu DSS berkembang , perhatian juga difokuskan pada otomatisasi kantor (office automation/OA) OA memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas diantara para manajer dan pekerja kantor melalui penggunaan alat elektronik.OA telah berkembang meliputi beragam aplikasi seperti konferensi jarak jauh, voice mail, e-mail, electronik calendaring, facsimile transmission.E. Fokus potensial pada konsultasiKomputer dapat diprogram untuk melaksanakan sebagian penalaran logis yang sama seperti manusia, suatu aplikasi yang dinamakan kecerdasan buatan (artificial intelligence).G.KEMAMPUAN SEBUAH SISTEM INFORMASI MANAJEMENPengetahuan tentang potensi kemampuan sistem informasi yang dikomputerisasi akan memungkinkan seorang manajer secara sistematis menganalisis masing-masing tugas organisasi dan menyesuaikannya dengan kemampuan komputer.SIM secara khusus memiliki beberapa kemampuan teknis sesuai yang direncanakan baginya. Secara kolektif kemampuan ini menyangkal pernyataan bahwa komputer hanyalah mesin penjumlah atau kalkulator yang berkapasitas tinggi, sebenarnya komputer tidak dapat mengerjakan sesuatu ia hanya mengerjakan lebih cepat. Sistem informasi komputer dapat memiliki sejumlah kemampuan jauh diatas sistem non komputer. Dan kemampuan ini telah merevolusikan proses manajemen yang menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem yang telah ada. Beberapa kemampuan teknis terpenting dalam sistem komputer :Pemrosesan data batchPemrosesan data tunggalPemrosesan on-line, real timeKomunikasi data dan switching pesanPemasukan data jarak jauh dan up date filePencarian records dan analisisPencarian fileAlgoritme dan model keputusanOtomatisasi kantor.H.KEMAMPUAN PELAPORANSemua sistem informasi memiliki kemampuan pelaporan dan laporan harus dirancang agar sesuai dengan bentuk tertentu.Prinsip pelaporan :Laporan harus menonjolkan informasi terpentingHarus seringkas mungkinHarus disediakan dukunganSistem pelaporan manajemen biasanya dalam transisiSetiap laporan harus berformat keputusanTerstruktur untuk melaporkan suatu kinerjaJenis-jenis laporan :1. Laporan periodikLaporan yang secara rutin dikerjakan2. Laporan indikator kunciMerupakan variasi laporan periodik, laporan ini secara khusus memberikan beberapa statistik kritis kegiatan operasi harian kepada manajer.Laporan siap panggilJenis laporan yang ditetapkan oleh manajer agar tersedia sebelum berakhirnya satu periode, mungkin karena masalah operasi yang tidak diharapkan atau adanya ancaman.Laporan khususLaporan ini sering disebut juga laporan ad-hoc adalah jenis laporan lain dari jenois laporan tidak terjadwal yang dapat diminta oleh manajer.Laporan perkecualianYaitu laporan yang berisi hanya informasi yang dibutuhkan oleh manajer.I.INTERFACE ANTARA MANAJER DAN MESIN.= titik kontak dimana sistem komputer memberikan informasi kepada manajer atau dimana manajer memberikan data kepada sistem komputer.Bentuk komunikasi antara manajer dan komputer :Pengembangan program komputerDialog atau menyelami fileMengakses dataMemasukkan input.RINGKASANSeiring dengan perkembangan lingkungan bisnis yang rumit dan lingkungan yang dinamis tuntutan terhadap keberadaan Sistem informasi manajemen adalah menjadi kebutuhan.Sistem informasi manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi secara rasional dan yang mentransformasikan data menjadi informasi dengan berbagai cara sehingga dapat meningkatkan produktifitas selain juga harus disesuaikan dengan gaya dan watak para manajernya.Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab gagalnya membangun SIM, antara lain :· Kurang organisasi yang wajar· Kurangnya perencanaan yang memadai· Kurang personil yang handal· Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi seluruh personil yang terlibat.Kemampuan teknis sistem komputer :Pemrosesan data batchPemrosesan data tunggalPemrosesan on-line, real timeKomunikasi data dan switching pesanPemasukan data jarak jauh dan up date filePencarian records dan analisisPencarian fileAlgoritme dan model keputusanOtomatisasi kantor.

Sistem Informasi Perhitungan Statistik Kelautan Perikanan

STATISTIK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Dalam menyebarluaskan data statistik kelautan dan perikanan, maka sejak tahun 2006, PUSDATIN menerbitkan buku “STATISTIK KELAUTAN DAN PERIKANAN” yang diterbitkan setiap tahun. Selain dalam bentuk hardcopy (buku), data tersebut juga dapat diperoleh dalam bentuk softcopy yang dapat didownload melalui situs ini. Publikasi ini menyajikan statistik kelautan dan perikanan yang meliputi perikanan tangkap; perikanan budidaya; pengolahan dan pemasaran hasil perikanan; kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil; pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan; SDM kelautan dan perikanan; riset kelautan dan perikanan; statistik perikanan dunia; dan statistik lainnya. Seluruh data yang disajikan dalam buku Statistik Kelautan dan Perikanan bersumber dari produk administrasi dari setiap unit kerja pada Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal dan Badan, juga berasal dari instansi lain terkait dengan kelautan dan perikanan yaitu Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perindustrian, Departemen Perdagangan serta intansi terkait lainnya.
Sistem Informasi Perhitungan Statistik (SIMPATIK) merupakan perangkat lunak berbasis web yang bertugas dalam menginventarisir perhitungan yang berhubungan dengan data kelautan dan perikanan. Hal tersebut dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang telah ada dan tersebar di seluruh unit kerja lingkup DKP, serta menyusun data-data baru yang diperlukan secara bersama-sama dengan unit kerja lainnya baik intern DKP termasuk Dinas Propinsi dan Kabupaten/Kota yang membidangi kelautan dan perikanan, maupun dengan lembaga-lembaga lainnya baik lembaga pemerintah maupun swasta dan mitra kerja lainnya.

Trend Sistem Informasi Industri Perbankan

Trend Produk
Saat ini bank ritel di Indonesia memiliki produk dan layanan:
<!–[if !supportLists]–>Tabungan
<!–[if !supportLists]–>Deposito
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Giro
<!–[if !supportLists]–>Kartu Debit
<!–[if !supportLists]–>Kartu Kredit
<!–[if !supportLists]–>Perdagangan Bank Notes, Valas, dsb (Trade Finance)
Trend Transaksi
Jenis transaski sudah beragam baik menggunakan Kartu Debit, Kartu Kredit yang memanfaatkan jaringan ATM atau Debit Access Transaction umumnya di Cashier yang berlokasi di gerai, outlet tempat-tempat perbelanjaan.
Sebagai gambaran BCA dengan 750 kantor online-nya, dilengkapi 2.100 ATM yang mempunyai fungsionalitas memadai, dapat menghandle dengan baik 8,2 juta nasabahnya.
Dengan jumlah transaksi per hari 2,4 juta. Dari jumlah transksi tersebut rata-rata 821.000 transaski dilakukan melalui ATM, dengan kata lain tingkat pemakaian ATM-nya sebesar 3,9 kali. Sedangkan transaksi lainnya yang sudah lazim dilakukan meliputi:
<!–[if !supportLists]–>Mengecek saldo
<!–[if !supportLists]–>Fasilitas Pembayaran: Pemindahbukuan dan Penarikan Tunai
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Fasilitas untuk menerima Pembayaran (speed collect)
<!–[if !supportLists]–>Pembukaan dan pengecekan L/C
Layanan On Line Banking
Seperti ungkapan futurolog teknologi Nicholas Negroponte; bahwa dunia makin lama makin digital. Hal ini ditengarai oleh pesatnya perkembangan transaksi bisnis dan kegiatan non-bisnis yang makin beralih ke pemanfaatan komputer on-line.
Dipicu oleh perkembangan Internet, makin meningkatnya kemampuan hardware dan software dengan kecepatan tinggi dan penyebaran komputer, makin menyadarkan nasabah bank akan berbagai kemudahan yang didapatkan dengan ketersediaan layanan On-line banking.
Saat ini standar layanan ritel banking kelas dunia seperti Chase Manhattan Bank, Bank Of America (BOA) bagi nasabahnya bukan saja menyediakan transakasi real-time, namun banyak lagi produk layanan berbasis on-line seperti:<!–[if !supportLists]–>
Packet S/W (Windows) gratis dan tak terbatas sebagai antisipasi memenangkan persaingan teller-less.
Packet software keuangan (Quicken, MoneyOne, BankNow)
Packet Entreprise Resourches Planning (ERP software) yang tentunya sangat dibutuhkan dalam mengelola bisnisnya.<!–[if !supportLists]–><!–[if !supportLists]–>
Kesemua software bantuan tadi dapat diakses, berkat tersedianya portal khusus yang dimiliki oleh setiap Bank.
Ketersediaan Teknologi dan Dampaknya
Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika mengarah ke konvergensi dan dipicu oleh ketatnya kompetisi, melahirkan berbagai inovasi dan lompatan teknologi Telematika.
Paradigma diatas sangat mempengaruhi pola dan strategi bisnis, tidak terkecuali industri perbankan. Tuntutan keragaman, kemudahan, kecepatan dan harga jasa yang sangat murah semakin cepat mengemuka.
Bagi sektor perbankan yang sangat mengutamakan unsur kepercayaan dan efisiensi serta layanan berkualitas, perlu menata ulang bisnisnya dengan mencermati ketersediaan inovasi teknologi serta dampaknya bagi kelangsungan dan pertumbuhan bisnisnya.
Berikut diuraikan teknologi dan dampaknya bagi perbankan
A. <!–[endif]–>Internet
Merupakan jaringan media informasi global untuk umum berkecepatan tinggi, yang menghubungkan setiap PC dengan PC lain melalui modem.
Manajemen operasinya diatur melalui Penyedia Jasa Internet (ISP) yang terhubung dengan International Internet Gateway, sehingga setiap individu dengan PC yang dilengkapi modem dapat berkomunikasi, bertukar informasi atau hanya sebatas mencari informasi keseluruh belahan dunia.
<!–[if !supportLists]–>B. <!–[endif]–>Intranet
Jaringan komunikasi intuk keperluan internal, yang mampu membuat sesama karyawan dapat bertukar informasi dan bertukar pengetahuan ataupun media penyampaian informasi kebijakan perusahaan pengganti majalah, bulletin di internal perusahaannya (private network).<!–[if !supportLists]–>C. <!–[endif]–>Extranet
Jaringan komunikasi yang dibangun dari saru perusahaan ke perusahaan lainnya untuk saling bertukar informasi, bertransaski dari dan ke supllier, pelanggan dan pelaku bisnis lainnya.<!–[if !supportLists]–>D. <!–[endif]–>World Wide Web (www)
Entitas yang paling cepat tumbuh dalam fasilitas Internet, yang menyediakan fasilitas dan kemudahan dalam membuka atau mengirim informasi melalui saluran/ links “hypertext”.
Dengan entitas ini memudahkan setiap komputer yang terhubung ke Web secara cepat mendapat akses informasi umum dari setiap komputer lainnya di Internet, walaupun jumlah informasinya banyak atau dari tempat yang jauh.<!–[if !supportLists]–>E. <!–[endif]–>e- commerce
Merupakan aplikasi perdagangan yang memanfaatkan fasilitas Internet, yang menjadikan setiap individu/ perusahaan dapat secara langsung tersambung secara digital ke perusahaan/individu lainnya untuk melakakukan transaksi bisnis.
Pemanfaatannya saat ini dapat dikategorikan dalam:
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Business to Business
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>Business to Customers
Agar keduabelah pihak dapat bertransaksi secara langsung, terlebih dahulu harus dibangun 2 sistem yang terintegrasi:
<!–[if !supportLists]–>1. <!–[endif]–>Interactive order entry and processing
Menjamin tersedianya fasilitas bertransaksi mulai, Informasi produk dan specifikasinya (e-marketplace), Pemesanan (Placing Order), Order Processing sampai pemenuhan Order (e-fulfillment)
<!–[if !supportLists]–>2. <!–[endif]–>On-line payment
Fasilitas internet yang memungkinkan pembayaran dilakukan secara on-line antara pembeli ke Bank atau Credit Card, setelah proses order terpenuhi persyaratannya (e-fulfillment).
Fasilitas ini menggantikan proses dagang konvensional seperti : pesan lewat Fax, e-mail, pembayaran dengan L/C sampai monitoring kelengkapan dokumennya.<!–[if !supportLists]–>F. <!–[endif]–>e- retail
Forrester Research, November 2000 mengatakan, penjualan ritel melalui internet akan mencapai USD 92 juta pada 2001. Hal ini membuktikan jalur internet telah memantapkan diri sebagai perantara penjualan dengan pertumbuhan tercepat.
Umumnya kegiatan e-retail meliputi:
<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Pengembangan model bisnis
<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>Disain situs WEB
<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Pengembangan dan manajemen kontent
<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kemitraan dan aliansi
<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Akusisi pelanggan
<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Desain rantai persediaan
<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>Model pemenuhan pelanggan (e-fulfillment)
<!–[if !supportLists]–>h. <!–[endif]–>Rencana skalabilitas
<!–[if !supportLists]–>i. <!–[endif]–>Integrasi dan eksekusi balik layar (back end)
<!–[if !supportLists]–>j. <!–[endif]–>Cara mempertahankan pelanggan
<!–[if !supportLists]–>k. <!–[endif]–>Ekonomi jangka panjang
Beberapa hal perbedaan e-retail dengan retail konvensional :
<!–[if !supportLists]–><!–[endif]–>Kecepatan menanggapi: Lebih cepat menerima dan memproses pesanan.
<!–[if !supportLists]–>Akses pelanggan terhadap informasi: Semakin ekstensif dan selalu up-to-date
<!–[if !supportLists]–>Area jual beli yang selalu berubah: pperkenalkan produk baru berdasarkan permintaan konsumen, bukan siklus perkembangan produk
<!–[if !supportLists]–>Kemantapan eksekusi: selain kesediaan produk dan kemudahan pembayaran, konsumen juga menuntut kecepatan pengiriman produk.
Ada 5 (lima) kunci pokok untuk mencapai sinkronisasi supply chain, yaitu:
<!–[if !supportLists]–> <!–[endif]–>Kesempurnaan operasional: Perencanaan pengantaran dan menerapkan konsekuensi perubahan atas upaya mengimplementasi kerangak peningkatan kinerja.
<!–[if !supportLists]–>Terobosan dengan memanfaatkan web, untuk pengurangan berlipat ganda biaya dari tiap proses.
<!–[if !supportLists]–>Menciptakan kerjasama baru
<!–[if !supportLists]–>Mengolola kompleksitas dalam waktu seketika
<!–[if !supportLists]–>Mengoptimalisasi hal-hal tak terdugaTercapainya kelima kekuatan diatas akan sangat membantu dalam mengimplementasikan strategi rantai persediaan, antara lain menyegmentasi berdasarkan kebutuhan pelanggan dan merencanakan sesuai kondisi pasar serta menyesuaikan jaringan logistik agar mencapai kesempurnaan e-retailing.
<!–[if !supportLists]–>G. <!–[endif]–>e- government
Sistem informasi pemerintahan yang berbasis web dan internet protocol untuk meningkatkan pelayanan pemerintah kepada warganya secara cepat dan murah. Contoh aplikasinya meliputi : KTP, Pajak, Fiskal dan SIM on-line.<!–[if !supportLists]–>H. <!–[endif]–>e- resourches
Suatu bentuk Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Pendapatan Bagi Hasil Eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) yang saat ini masih diimplementasikan dibidang kelautan, dimana Pemerintah selaku pemegang hak pengelolaan membuat situs Internet tentang seluruh kandungan kekayaan alam, kebijakan ekploitasi, pola bagi hasil dan tatacara pembayarannya.
Pendapatan bagi hasil dengan investor yang mengeksploitasi SDA tersebut dikelola secara on-line ke Bank.
<!–[if !supportLists]–>I. <!–[endif]–>LAN –sharing
Merupakan teknologi peng-optimalasasian jaringan sehingga dapat digunakan bersama-sama baik dalam Bank serempak dengan LAN Nasabah, dengan pembatasan-pembatasan penggunaan fungsi, akses datanya dan menjamin keamanan data base masing-masing pengguna.<!–[if !supportLists]–>J. <!–[endif]–>Portal
Pintu gerbang bagi pengguna Internet, sehingga memungkinkan untuk pencarian, bertukar informasi, memperoleh informasi tertentu secara up to date hingga melaksanakan transasksi berbasis web (e-commerce, dsb)Kesepuluh inovasi teknologi telematika di atas merupakan satu kesatuan yang saling terintegrasi dan berdampak langsung terhadap pola bisnis dan persaingan.
Perusahaan-perusahaan yang adaptif dalam memanfaatkan kesepuluh teknologi di atas bukan hanya mencapai efisiensi usaha, namun juga mendapatkan banyak manfaat dalam menata ulang usaha dan menyusun skenario pertumbuhannya, sampai dimanfaatkan sebagai alat strategis untuk membangun berbagai keunggulan dalam memenangkan persaingan yang cenderung semakin terbuka dan meng-global.

Sekuritas Share Folder dengan NTFS

FAQ Edition, by Dicky Rahardiantoro

Menanggapi beberapa pertanyaan yang sering muncul tentang optimalisasi penggunaan Win-XP dan Win NT dalam hal sekuritas, maka pada tulisan ini saya ingin menjelaskan tentang teknik men-setting system sekuritas “Share Folder” pada jaringan Local Area Network (LAN) agar sebuah share folder hanya memiliki 1 fungsi yaitu “menerima data saja” atau “memberi data saja”.

Hal tersebut perlu dijabarkan karena kebanyakan pengguna jaringan Komputer menginginkan tambahan keamanan atas data yang ia kirim ke salah satu client atau user lain.

Misalnya Rita meminta Hassan untuk mengirim softcopy laporan keuangan yang sangat confidential melalui jaringan LAN. Jika share folder yang dimiliki Rita tidak dijamin oleh system sekuritas yang memadai, maka boleh jadi ada pihak ke-3 yang sama-sama terhubung pada jaringan tersebut untuk mengambil data tanpa sepengetahuan kedua belah pihak.

Oleh sebab itu Rita sangatlah membutuhkan Share Folder yang berfungsi sebagai wadah untuk menerima file dan hanya pada Komputer Rita sajalah file tersebut dapat dibuka, diedit dan dihapus.

Solusi mungkin dapat dibuat dengan bantuan sebuah aplikasi pengiriman file data yang terinstall pada Komputer Rita dan Hassan, tapi tentunya solusi tersebut kurang efisien, karena kebutuhan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan mengoptimalkan kemampuan partisi dalam format NTFS yang dapat terbaca di Windows-NT, Windows-XP, Windows 2003 dan Windows dengan versi yang lebih tinggi.

Caranya mudah, silakan cermati tahapan yang saya jelaskan berikut ini :

<!–[if !supportLists]–>

<!–[if !supportLists]–>1. Partisi harus dalam format NTFS, jika partisi anda bukan NTFS maka anda perlu melakukan konversi ke NTFS dengan bantuan software cerdas seperti PowerQuest Partition Magic

<!–[if !supportLists]–> 2. Lakukan Share Folder sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. 3. Atur bagian “Permissions” sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>1. 4. Klik tab “Security” dan klik Group and User Names dengan jenis “Everyone”

<!–[if !supportLists]–>5. Klik tombol “Advanced” yang terletak pada bagian kanan bawah

<!–[if !supportLists]–> 6. Edit permission stries “Everyone” sebagai berikut :

<!–[if !supportLists]–>7. Perhatikan setting berikut ini :

<!–[if !supportLists]–>8. Klik OK sampai seluruh proses setting selesai

<!–[if !supportLists]–> 9. Seluruh proses di atas akan menyebabkan Client bisa mengirim file data kedalam share folder akan tetapi client tidak bisa membaca dan mengcopy isi share folder

Sistem Informasi Manajemen Kasir Ritel
(Retail Point Of Sales Management Software)
APLIKASI KOMPUTER UNTUK RITEL (AKUR)

Retail Tanpa Sistem Informasi Manajemen (SIM) Pengelolaan informasi Retail biasanya dikerjakan secara manual. Tanpa penggunaan SIM, maka pendataan transaksi jual beli dan inventori Retail dicatat dalam buku.Kelemahan – kelemahan yang dapat ditemukan dalam kasus ini ialah :

  • Membutuhkan waktu lebih lama dalam melayani transaksi pembayaran, karena harus dihitung secara manual atau dengan kalkulator.
  • Memerlukan waktu untuk memantau inventori stok obat yang ada (stock opname).
  • Memerlukan waktu dalam pembuatan laporan – laporan, karena karyawan harus membuka kembali data-data yang ada, sehingga pekerjaan menjadi kurang efektif.
  • Kemungkinan adanya data – data yang hilan gkarena tidak / lupa tercatat.

Retail Dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM)SIM Retail (Retail Software / Software Ritel / Perangkat Lunak Untuk Ritel) dibuat untuk menangani bagian point of sales kasir dan inventori dari suatu Retail, yaitu dengan cara menyediakan kemampuan untuk menangani transaksi beli dan jual yang dibayar tunai ataupun kredit. Juga untuk menyajikan laporan laporan sehingga keputusan yang diambil manajer lebih tepat sasaran.

Sistem aplikasi ini dirancang untuk digunakan secara mudah baik dengan keyboard dan mouse atau dengan barcode scanner sebagai alat memasukkan data. Sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat. Laporan yang disediakan ada dua macam yaitu laporan standar yang terdiri dari 19 macam dan laporan statistik dan analisa trend yang terdiri dari 4 macam. Dengan banyaknya laporan yang disediakan, maka akan cukup untuk memenuhi lingkup proses di Retail. Masing masing tipe laporan tersebut bisa dihasilkan dengan rentang waktu yang flexible yang bisa ditentukan sendiri, sehingga memudahkan untuk pengamatan hasil kerja atau berjalannya manajemen dari Retail.

Kelebihan – kelebihan (lebih detail ada dibagian bawah) yang diperoleh Retail dengan menggunakan SIM ini adalah :

  • membutuhkan waktu yang lebih singkat dalam melayani transaksi pembayaran, karena SIM atau mesin kasir dapat menghitung secara automatis
  • Pemantauan arus kas, inventori / stok produk yang ada dapat dilakukan secara cepat
  • Pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran, misalnya pemilihan produk / obat obat mana saja yang lebih diperbanyak karena dengan menggunakan laporan statistik, bisa diketahui produk / obat obat mana saja yang paling diminati masyarakat (paling laris).

Informasi Detail Mengenai :
SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)
RETAIL

Penggunaan Applikasi :
Aliran proses dari penggunaan SIM Retail ini adalah, pengisian data, melakukan transaksi kemudian pembuatan laporan dan analisa statistik produk.
Hak Akses untuk applikasi bisa dibatasi dari menu sekuriti, sehingga sebagai misal tidak sembarang orang bisa melakukan transaksi penjualan, pembuatan laporan dan lain lain. Semua aktivitas dari setiap pengguna dalam pemakaian applikasi ini tercatat secara rinci mendetail, dan hanya bisa dilihat oleh pengguna dengan hak administrator sehingga penyalahgunaan applikasi bisa di minimalisir.

Manajemen Data :
Data data yang bisa di dimasukkan ke dalam sistem dan kemudian di pergunakan untuk mendukung kerja aplikasi adalah data Kategori Produk, data Supplier, data Produk, data Paket / Parcel, data Produk Alternatif dan data Pelanggan. Data data diatas harus diisi terlebih dahulu supaya transaksi bisa dilakukan dengan benar dan laporan bisa dibuat dengan baik

Manajemen Transaksi :

Transaksi ada 2 macam yaitu Penjualan dan Pembelian. Tipe transaksi Penjualan terdiri dari 2 macam yaitu :
1. Penjualan Tunai , untuk pelayanan dengan pembayaran secara cash (bisa uang tunai maupun kartu kredit dan cara bayar lainnya)
2. Penjualan Kredit, untuk pelayanan kepada pelanggan yang pembayarannya bisa dikredit atau dibayar belakangan.

Tipe transaksi Pembelian juga terdiri dari 2 macam yaitu Pembelian Tunai dan Pembelian Kredit, Dari Penjualan dan Pembelian Secara kredit maka tentunya akan ada piutang maupun hutang, penanganan masalah piutang dan hutang yang dicicil maupun dilunasi diatur oleh fungsi manajemen piutang dan hutang.

Entri saat transaksi Penjualan maupun Pembelian, saat harus mengisikan kode produk bisa dilakukan dengan barcode scanner untuk memudahkannya, bisa juga dengan keyboard memilih daftar produk yang tersedia. Saat Transaksi jual akan ada option untuk memilih apakah akan mencetak bon atau tidak, seandainya tidak tercetak tapi ternyata dibutuhkan oleh client, maka bon bisa dicetak dengan utility re-print, sehingga bon bisa dicetak kapan saja.Selain transaksi normal diatas, disediakan juga menu transaksi retur, baik untuk penjualan maupun pembelian. , serta modul pemesanan yang akan membuat surat pesanan, dari pesanan ini bisa dirubah menjadi pembelian, saat pesanan tersebut tiba.

Laporan :
Laporan ada 2 macam yaitu Laporan Standar dan Statistik / Analisa Trend,
Laporan Standar terdiri dari 22 macam laporan yaitu
1. Arus Kas,
2. Penjualan Tunai,
3. Penjualan Kredit,
4. Penjualan per Kategori,
5. Pembelian Tunai,
6. Pembelian Kredit,
7. Keuntungan,
8. Hutang,
9. Piutang,
10. Penerimaan Non Tunai,
11. Stok Reorder,
12. Stok Opname,
13. Produk Kadaluarsa,
14. Data Kategori,
15. Data Supplier,
16. Data Produk,
17. Data Paket / Parcel,
18. Data Produk Alternatif,
19. Data Pelanggan
20. Retur Penjualan
21. Retur Pembelian
22. Data Nilai Produk

Laporan laporan diatas bisa dibuat berdasar rentang waktu yang flexible yaitu hari ini, antara 2 tanggal atau keseluruhan data yang ada di buat laporannya.

Laporan Statistik digunakan untuk mengamati pada periode periode yang dipilih, produk produk mana saja yang jumlah jual atau keuntungannya yang paling baik, sehingga keputusan yang tidak merugikan untuk pengadaan suatu produk bisa dilakukan dengan mempertimbangkan minat masyarakat terhadap produk berdasarkan statistik yang dihasilkan tersebut, Sedangkan Analisa Trend digunakan untuk mengamati naik turunnya jumlah atau keuntungan dari setiap produk berdasar rentang waktu yang dipilih, baik secara per minggu (pengamatan per hari), per bulan (pengamatan tiap 10 hari ) dan per tahun (pengamatan per kuartal atau per bulan)

Tools :
Disini adalah fitur fitur dari aplikasi untuk melihat aktivitas yang dikerjakan pada aplikasi ini atau untuk memaintenance aplikasi diantaranya adalah : Sekuriti (untuk memberi hak akses kepada pengguna, apakah dia hanya bisa menangani transaksi penjualan saja, pembelian saja, apakah bisa membuat laporan dll), Options (menu untuk setting aplikasi, misal nomer transaksi berikutnya, alamat retail, persentase PPn dll), Aktivitas Pengguna yaitu History login (pencatatan tanggal dan jam pemakaian aplikasi oleh setiap pengguna), History Pembelian, History Penjualan, Histori Mendetail mengenai Keluar Masuk Barang dan History Penghapusan Transaksi, Stok Opname (penyesuaian jumlah produk yang dicatat dalam sistem dengan jumlah sebenarnya, baik penambahan maupun pengurangan), Stok Reorder (informasi mengenai produk produk mana saja yang harus di order ulang)

Sistem yang digunakan :
Aplikasi SIM ini dibuat dengan sistem multi client, sehingga bisa digunakan oleh retail dengan satu kasir maupun banyak, kemampuan lainnya adalah :

  • pekerjaan dan pemantauan keseluruhan sistem Retail bisa dilakukan di lebih dari 1 komputer, dan komputer komputer ini terhubungan dengan jaringan ethernet
  • database yang digunakan adalah database Microsoft SQL Server dengan kapasitas maksimum sangat besar hampir tidak terbatas sesuai kemampuan operating system

Kebutuhan Software :
Aplikasi ini membutuhkan sistem operasi yang berbasis windows dengan minimal sistem operasi Untuk aplikasi adalah Windows 98, sedangkan untuk database nya minimal harus menggunakan sistem operasi Windows 2000. Sehingga bila database dan aplikasi hendak disatukan didalam sebuah komputer, maka sistem operasi minimal adalah windows 2000, tapi bila digunakan dalam suatu jaringan yang terpisah, maka, aplikasi dan server database bisa dipasang pada komputer dengan sistem operasi minimal diatas. Monitor yang digunakan adalah flexibel, tapi minimal sebaiknya harus mampu berada dalam resolusi 800×600 pixel
Kebutuhan Hardware :
Secara mendasar, aplikasi ini akan berjalan pada konfigurasi hardware komputer yang bisa mendukung sistem operasi diatas. Semakin cepat konfigurasi hardware komputer, maka semakin cepat pula aplikasi ini dapat berjalan. Printer yang sudah di tes berjalan dengan baik adalah printer Epson LX-300 dan LX-800. Khusus untuk pemasangan aplikasi dan database yang terpisah maka komputer harus dilengkapi network card agar bisa membentuk jaringan dengan komputer lainnya.

Screen Capture:
Link keseluruhan Tampilan tampilan dari aplikasi bisa dilihat dengan permintaan kepada kami di me@aespesoft.com, untuk sebagian tampilan bisa diakses disini.

Harga :

Contact Untuk Pembelian / Pertanyaan :

  • agungsp2000@yahoo.com (mohon baca note)
    Alhamdulillah, Aplikasi yang saya develop sudah cukup matang (> 3 tahun) dan sampai saat ini belum ada laporan error dari klien saya, jadi walaupun tidak dihandel full day oleh saya, Insya Allah Aplikasi sudah stabil dan dilengkapi dengan file help yang cukup detil (kurang lebih 100 topik)
  • CD Demo dan Pembayaran :

    CD demo akan dikirimkan setelah mengirimkan down payment sebesar Rp 100.000,00 aplikasi dalam cd demo ini berfungsi penuh (kecuali mencetak) selama 2 minggu, setelah itu aplikasi tidak bisa berjalan lagi.

    Setelah dua minggu aplikasi diputuskan jadi dibeli maka aplikasi bisa berfungsi penuh kembali sesudah dimasukkan serial number. serial number bisa didapatkan via sms setelah biaya harga sudah ditransfer penuh. Bila setelah 2 minggu aplikasi tidak jadi dibeli maka mohon maaf biaya tidak bisa dikembalikan.

    Note :

    Berhubung sering munculnya ide ide baru atau saran dari partner-partner maupun sumber referensi, kemungkinan fitur-fitur dari software yang didapatkan saat dibeli akan lebih baru dari yang dijelaskan diatas.

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.